Dari Canting ke Kemandirian, Batik Mandau Bawa Motif Melayu dan Migas ke Pasar

PHR113 Dilihat

DURI, DURIPOS.COM – Jemari dua perempuan itu bergerak perlahan namun pasti. Di atas kain putih yang terbentang pada bingkai seluas lima meter persegi, canting menari mengikuti pola yang telah mereka rancang.

Garis demi garis ditorehkan dengan teliti. Perlahan, kain putih itu mulai kehilangan wajah polosnya. Ornamen khas Melayu bermunculan, berpadu dengan kreativitas para pengrajin Batik Mandau.

“Ini namanya motif nenas,” kata Aslinda, salah seorang pengrajin Batik Mandau, saat ditemui di Workshop Batik Mandau, Jalan Jenderal Sudirman, Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Di sudut lain, seorang pengrajin tampak sibuk membuat pola menggunakan canting cap. Kali ini, gambar yang muncul bukan sekadar ornamen tradisional. Bentuk pompa angguk tergambar jelas di atas kain.

Motif pompa angguk menjadi salah satu ciri khas Batik Mandau. Ikon tersebut merepresentasikan kehidupan masyarakat Duri yang tumbuh berdampingan dengan aktivitas industri minyak dan gas bumi.

Duri merupakan salah satu kawasan penting dalam pengelolaan Wilayah Kerja Rokan. Karena itu, bagi para pengrajin, pompa angguk bukan sekadar gambar. Ia menjadi simbol yang menghubungkan karya seni dengan identitas daerah.

Namun, Batik Mandau tidak berhenti pada cerita tentang migas. Identitas Melayu tetap menjadi bagian penting dalam setiap lembar kain yang dihasilkan.

Pucuk rebung, bunga melati, daun duri, bolu kemojo hingga lambang “Bermasa”
singkatan dari bermarwah, maju dan sejahtera—menjadi bagian dari ragam motif yang dikembangkan para perempuan kreatif tersebut.

Di balik berkembangnya kerajinan itu, ada semangat sekelompok perempuan yang tergabung dalam Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kecamatan Mandau untuk menjadikan keterampilan sebagai kegiatan produktif sekaligus membuka peluang ekonomi.

Batik Mandau kemudian tumbuh sebagai salah satu pusat kerajinan ekonomi kreatif binaan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan melalui program Community Involvement and Development (CID).

Dalam pengembangannya, PHR menggandeng Politeknik Bengkalis untuk mendukung aktivitas kerajinan batik yang dijalankan PKK Mandau.

Dukungan tersebut antara lain diwujudkan melalui penyediaan berbagai perlengkapan membatik, mulai dari canting, cap hingga sarana pendukung lainnya.

“PHR sangat memperhatikan kami, mendukung peralatan membatik mulai dari canting, cap dan perlengkapan lainnya,” ujar Ketua Tim Penggerak PKK Mandau, Dewi Asdinar.

Dukungan tersebut perlahan memberi ruang bagi Batik Mandau untuk berkembang. Kain-kain hasil karya para pengrajin mulai dikenal di berbagai daerah di Riau. Pesanan pun datang dari beragam kalangan, termasuk instansi pemerintahan dan perusahaan.

Dari Budaya Menjadi Peluang Ekonomi
Cerita serupa juga tumbuh di Kota Dumai.
Di kota yang berada di pesisir Riau itu, para perempuan melalui TP PKK Dumai mengembangkan batik dengan motif yang menggali kekayaan budaya dan cerita rakyat setempat.

Salah satu motif unggulannya adalah Sunting Putri Tujuh, yang terinspirasi dari budaya serta cerita rakyat tentang asal-usul Dumai.

Ada pula motif periuk beruk yang mengambil bentuk tumbuhan kantong semar, bunga kembang loyang, bunga tanjung sebagai representasi flora khas Dumai, serta kapal lancang kuning yang menjadi simbol kejayaan Melayu.

Motif-motif tersebut tersusun di Galeri Batik Dumai, Aula Khairul Anwar, Jalan Putri Tujuh, Kompleks Perumahan Wali Kota Dumai.
Kreativitas para anggota TP PKK Dumai juga mulai berkembang menjadi aktivitas ekonomi produktif. Pemasaran diperluas melalui galeri, pusat pertokoan di sekitar Dumai Islamic Center (DIC), hingga toko daring.

Pembelinya pun semakin beragam. Tidak hanya masyarakat dan instansi pemerintahan di dalam daerah, tetapi juga pemesan dari luar daerah hingga wisatawan asal Malaysia.

Ketua TP PKK Kota Dumai, Leni Ramaini, mengapresiasi dukungan PHR terhadap perkembangan Batik Dumai.
Menurutnya, pelatihan membatik yang diberikan tidak hanya meningkatkan keterampilan anggota, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para perempuan yang menggelutinya.

Merawat Warisan, Menguatkan Perempuan
Perjalanan Batik Mandau dan Batik Dumai menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Melalui program CID, PHR memberikan pendampingan kepada pengrajin dan pelaku UMKM batik, mulai dari peningkatan kapasitas produksi, pelatihan manajemen usaha, dukungan sarana dan prasarana membatik hingga membuka akses pasar yang lebih luas.

Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak turut memperkuat langkah para perempuan tersebut untuk mengembangkan keterampilan menjadi usaha yang lebih berkelanjutan.

Bagi para pengrajin, selembar kain batik bukan sekadar produk kerajinan.
Di dalamnya ada cerita tentang daerah, budaya Melayu, kehidupan masyarakat, sekaligus harapan agar keterampilan yang mereka miliki mampu memberikan nilai tambah bagi keluarga.

Dari tangan perempuan-perempuan di Mandau dan Dumai, canting tidak hanya meninggalkan jejak warna di atas kain. Ia juga menorehkan cerita tentang keberanian untuk berkarya, menjaga warisan budaya dan membangun kemandirian ekonomi.

Melalui pemberdayaan UMKM batik tersebut, PHR menyatakan komitmennya untuk mendukung keberlanjutan warisan budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasinya, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam membuka akses terhadap pertumbuhan ekonomi dan ruang pemberdayaan bagi perempuan.**

Komentar