Dari Jerigen ke Irigasi Tetes, KWT Multi Talent Tak Lagi Takluk pada Kemarau

PHR62 Dilihat

PEKANBARU,DURIPOS.COM – Dulu, kemarau bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Multi Talent Desa Perawang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, bukan sekadar persoalan cuaca. Kemarau berarti air sulit didapat, tanaman terancam kering, dan sebagian lahan harus dibiarkan menganggur.

Kini, kondisi itu perlahan berubah.
Sebanyak 14 perempuan yang tergabung dalam KWT Multi Talent mulai mampu mengelola lahan pertanian seluas empat hektare dengan dukungan teknologi irigasi modern hasil kolaborasi bersama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan Pemerintah Desa Perawang Barat.

Perubahan tersebut berawal dari persoalan sederhana, tetapi selama bertahun-tahun menjadi hambatan besar: air.

Sumber air baku berupa parit berada sekitar 75 meter dari area kebun, dengan posisi elevasi sekitar sembilan meter lebih rendah. Kondisi geografis itu membuat anggota kelompok harus mengangkut air secara manual menggunakan jerigen berkapasitas 20 liter dari rumah masing-masing dengan sepeda motor.

Satu jerigen membutuhkan waktu hingga 30 menit untuk diangkut dan digunakan menyiram tanaman. Untuk menyiram seluruh area kebun, mereka bahkan harus menghabiskan waktu sekitar empat jam setiap hari.

Akibatnya, saat musim kemarau tiba, pilihan tanaman pun terbatas. Komoditas hortikultura bernilai ekonomi seperti cabai, kacang panjang, timun dan terong sulit dikembangkan. Kelompok lebih banyak bertumpu pada tanaman ubi-ubian yang relatif tahan terhadap kondisi kering.

Bagi para perempuan tani itu, keterbatasan air bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga membatasi peluang meningkatkan produktivitas dan pendapatan.

Melihat persoalan tersebut, PHR bersama PPL dan Pemerintah Desa setempat menghadirkan solusi melalui dukungan infrastruktur dan transfer teknologi.
PHR memfasilitasi pemasangan pompa air bertenaga diesel untuk mengangkat air dari parit menuju tandon berkapasitas 1.000 liter.

Jika sebelumnya pengadaan air membutuhkan tenaga dan waktu berulang kali, kini pengisian tandon dapat dilakukan sekitar 10 menit.

Tidak berhenti pada penyediaan pompa, kelompok juga diperkenalkan dengan sistem irigasi tetes (drip irrigation). Teknologi ini memungkinkan air dan nutrisi dialirkan secara lebih terukur langsung menuju area perakaran tanaman.

Dukungan tersebut dilengkapi bantuan pupuk organik serta pelatihan pengolahan limbah rumah tangga.

Bagi Ketua KWT Multi Talent, Ratna Siregar, perubahan itu terasa langsung dalam aktivitas sehari-hari.

“Setelah ada bantuan dari PHR, banyak sekali perubahan nyata yang kami alami. Kami masih bisa menanam saat musim kemarau. Berbeda dari sebelumnya, bila kemarau kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada air,” kata Ratna.

Namun, teknologi saja tidak cukup. Para anggota KWT juga dituntut mampu mengoperasikan dan merawat sistem tersebut.

Sebelum instalasi dipasang, Ratna bersama anggota kelompok bahkan bergotong royong, dibantu para suami, membuat kolam penampungan air di area kebun. Setelah sistem berjalan, mereka mempelajari pengoperasian pompa, pengaturan distribusi pipa irigasi tetes hingga menyusun jadwal piket operasional harian.

Empat Jam Menjadi Dua Jam. Perubahan paling terasa terlihat dari waktu penyiraman. Sebelum menggunakan sistem irigasi, penyiraman kebun membutuhkan waktu sekitar empat jam setiap hari. Setelah sistem irigasi diterapkan, durasi tersebut dapat dipangkas sekitar 50 persen menjadi dua jam.

“Awalnya kami tidak paham dengan sistem pengairan yang diterapkan, namun ternyata sangat membantu. Tidak perlu repot lagi harus bolak-balik ambil air dari rumah. Ketakutan kekeringan tidak semengerikan dulu karena ada kepastian air,” ujar Ratna.

Ketersediaan air sekitar 1.000 liter per hari juga membuat sekitar setengah hektare lahan yang sebelumnya menganggur saat musim kemarau kembali produktif.

Perubahan itu sekaligus membuka keberanian baru bagi anggota kelompok. Mereka mulai meninggalkan pola tanam lama dan mengembangkan berbagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi, seperti cabai, kacang panjang, timun dan terong.

Di lahan yang sebelumnya menjadi simbol keterbatasan air, kini tumbuh harapan baru. Bagi KWT Multi Talent, irigasi bukan sekadar soal bagaimana air bisa sampai ke tanaman. Lebih dari itu, teknologi tersebut memberi kepastian bagi petani untuk terus bercocok tanam ketika musim kemarau datang.

Program kolaborasi PHR bersama masyarakat tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak berhenti pada pemberian sarana fisik. Pengetahuan, keterampilan, partisipasi masyarakat dan keberlanjutan menjadi bagian penting agar bantuan benar-benar mampu menggerakkan potensi ekonomi lokal.

Dari jerigen yang dulu diangkut satu per satu, kini air mengalir melalui pipa-pipa irigasi menuju akar tanaman. Dan dari sana, KWT Multi Talent mulai menanam sesuatu yang lebih besar dari sekadar komoditas pertanian: kemandirian.**

Komentar