JAKARTA,DURIPOS.COM — Aroma pizza hangat yang keluar dari dapur sederhana itu bukan sekadar sajian kuliner. Bagi Muhammad Haekal Senchaki (20), setiap loyang yang ia hasilkan adalah simbol kemandirian yang dibangun dari sebuah kesempatan.
Berawal dari program pelatihan tata boga bagi penyandang disabilitas yang digagas PT Patra Drilling Contractor (PDC), Haekal kini menjelma menjadi pelaku usaha muda dengan brand “Chaki Pizza”. Program Corporate Social Responsibility (CSR) PDC yang memasuki tahun ketiga ini tak hanya memberi keterampilan, tetapi juga membuka jalan nyata menuju kemandirian ekonomi.
Haekal, mahasiswa berkebutuhan khusus jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, mengikuti pelatihan tersebut pada 2025. Dari yang sebelumnya belum memiliki kemampuan memasak, kini ia mampu memproduksi dan memasarkan pizza secara mandiri melalui sistem pre-order.
Hasilnya mulai terlihat. Selama Ramadan 2026, usaha “Chaki Pizza” mencatat penjualan lebih dari 146 loyang. Bahkan, dalam sehari, Haekal bersama ibunya mampu melayani hingga 17 pesanan dengan berbagai varian, mulai dari sosis, smoked beef hingga keju mozzarella.
Corporate Secretary PDC, Ani Aryani, menegaskan bahwa program CSR yang dijalankan tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang.
“PDC berkomitmen menghadirkan program CSR yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya dalam mendorong kemandirian ekonomi kelompok rentan. Hingga saat ini, program telah menjangkau 51 peserta penyandang disabilitas,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (31/3/2026).
Hal senada disampaikan Jr. Analyst CSR PDC, Harun. Ia menyebut pelatihan ini bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga membuka peluang usaha yang nyata bagi peserta.
“Kami ingin memastikan mereka memiliki bekal untuk mandiri secara ekonomi dan mampu bersaing. Keberhasilan Haekal menjadi bukti bahwa program ini tepat sasaran,” katanya.
Di balik keberhasilan tersebut, dukungan keluarga menjadi bagian penting. Ibunda Haekal, Poppy Prokarsia, mengaku terharu melihat perubahan putranya.
“Dulu Haekal belum bisa memasak, sekarang sudah mandiri dan punya usaha sendiri. Kami sangat bersyukur dan bangga,” ungkapnya.
Program CSR PDC sendiri telah berjalan selama tiga tahun dengan fokus pada pemberdayaan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas. Hingga kini, sebanyak 51 peserta telah merasakan manfaatnya.
Melalui pendekatan pelatihan berbasis keterampilan dan pendampingan, PDC berharap dapat terus memperluas jangkauan program, sekaligus menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Kisah Haekal menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Dengan dukungan yang tepat, peluang bisa tumbuh—bahkan dari dapur kecil, menuju mimpi besar.**











Komentar