Budaya Serumpun 2026 Guncang Mandau! Lintas Suku Satukan Semangat Persaudaraan

Bengkalis55 Dilihat

MANDAU, DURIPOS.COM – Beragam warna pakaian adat, kekayaan tradisi, dan iringan semangat kebersamaan menyatu dalam kemeriahan Budaya Serumpun 2026 di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Kegiatan yang dipusatkan di halaman Gedung Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kecamatan Mandau, Kamis (5/11/2026), menjadi panggung keberagaman sekaligus bukti bahwa perbedaan suku dan budaya bukanlah sekat untuk membangun persaudaraan.

Melalui pawai budaya yang melibatkan berbagai paguyuban, lembaga adat, kelompok seni, dan organisasi masyarakat, Budaya Serumpun 2026 menghadirkan potret nyata kehidupan masyarakat Mandau yang hidup berdampingan dalam keberagaman.

Sejumlah kelompok budaya dan organisasi masyarakat turut memeriahkan pawai tersebut, di antaranya Ikatan Keluarga Minang (IKM), LAMR Mandau, Tameng Adat, Suku Sakai, Kelompok Seni Anak Negeri, Pelko Duri, Ikatan Keluarga Bunga Setangkai (IKBS), Ikatan Keluarga Tanah Datar, Persatuan Masyarakat Batak Duri Sejahtera (PMBDS), Gonjong Limo Mandau Adat Salingka Nagari, PKDP Mandau, KBRC, Ormas Grib Jaya, serta Pemuda Pancasila Mandau.

Keikutsertaan masyarakat Melayu, Sakai, Minangkabau, Jawa, Batak, dan berbagai kelompok lainnya menjadi gambaran nyata bahwa keberagaman bukan penghalang untuk hidup rukun dan harmonis. Justru, perbedaan tersebut menjadi kekuatan yang memperkaya identitas masyarakat sekaligus memperkokoh persatuan di Negeri Junjungan.

Ketua Panitia Pelaksana Budaya Serumpun 2026, Syamsurizal, mengatakan kegiatan ini merupakan simbol kekuatan wadah silaturahmi sekaligus bukti nyata bahwa masyarakat Mandau mampu menjaga kerukunan di tengah keberagaman suku dan budaya.

“Ini merupakan simbol kekuatan wadah silaturahmi sekaligus bukti nyata bahwa di tanah Mandau, keberagaman suku dan budaya menjadi kekuatan yang mempersatukan kita. Mulai dari Suku Sakai, Melayu, Minang, Batak, Jawa, serta berbagai suku lainnya, semuanya merupakan bagian dari kekayaan masyarakat Mandau,” ungkap Syamsurizal.

Ia menegaskan, keberagaman tersebut harus terus dirawat melalui sikap saling menghargai, hidup berdampingan secara harmonis, serta saling menguatkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, rangkaian kegiatan Budaya Serumpun 2026 yang berlangsung selama empat hari bukan sekadar perayaan seni dan tradisi, tetapi juga menjadi ruang untuk merajut kembali nilai-nilai luhur peninggalan leluhur.

Melalui kegiatan ini, pihaknya ingin memperkenalkan kekayaan warisan budaya kepada generasi muda agar tetap terjaga, dikenal, dan tidak lekang oleh perkembangan zaman.

Syamsurizal juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Daerah, seluruh tokoh adat, panitia, serta berbagai elemen masyarakat yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan tersebut dapat terselenggara.

Ia berharap seluruh masyarakat dan pengunjung dapat bersama-sama menjaga ketertiban, keamanan, serta kedamaian selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Senada dengan itu, Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kecamatan Mandau, H. Datuk Zulfan Effendi S.Sos, menyampaikan tahniah dan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia serta seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan Budaya Serumpun 2026.

Menurutnya, terselenggaranya kegiatan tersebut merupakan hasil dukungan, kebersamaan, kolaborasi, dan semangat silaturahmi seluruh elemen masyarakat, bukan hanya kerja satu atau dua pihak.

“Keberagaman suku, adat, dan budaya yang ada di Kecamatan Mandau bukanlah pemisah di antara kita, melainkan kekuatan yang menyatukan. Ada Suku Sakai, Melayu, Minangkabau, Batak, Jawa, dan berbagai suku lainnya yang hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan,” ujar H.Datuk Zulfan Effendi.

Ia juga mengingatkan bahwa budaya tidak hanya sebatas warisan leluhur, tetapi memiliki peran penting sebagai benteng moral, identitas, dan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.

“Melalui budaya, kita belajar menghargai perbedaan, menjaga keharmonisan, serta memperkuat hubungan silaturahmi antarsesama. Karena itu, mari kita bersama-sama mempertahankan, menjaga, dan melestarikan budaya yang kita miliki,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, H.Datuk Zulfan Effendi turut menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Bengkalis, khususnya Bupati Bengkalis, serta Pemerintah Kecamatan Mandau atas dukungan dan perhatian terhadap penyelenggaraan kegiatan Budaya Serumpun.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, melainkan dapat terus dilaksanakan dan menjadi agenda budaya berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang.

Baginya, keberlanjutan kegiatan ini penting untuk menjaga nilai-nilai adat, memperkuat persatuan, serta memastikan kekayaan budaya leluhur tetap diwariskan kepada generasi penerus.

Empat hari pelaksanaan Budaya Serumpun 2026 dengan penampilan Kesenian daerah Melayu, Sakai, Minangkabau, Batak, Jawa dan Festival Lagu Daerah, diharapkan menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi, memperkokoh persaudaraan, dan memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keharmonisan Kecamatan Mandau.

Di tengah beragam identitas dan tradisi yang ditampilkan, tersimpan satu pesan kuat dari tanah Mandau: berbeda suku bukan berarti berbeda tujuan. Sebab, persatuan dan persaudaraan merupakan warisan berharga yang harus dijaga bersama demi kemajuan Kecamatan Mandau dan Kabupaten Bengkalis.**

Komentar