Di Halaman Gedung LAMR Mandau, Festival Budaya Serumpun Jadi Simbol Persatuan Keberagaman Suku

Bengkalis15 Dilihat

MANDAU,DURIPOS.COM – Keberagaman suku dan budaya bukanlah sekat pemisah, melainkan kekuatan untuk mempererat persaudaraan dan membangun daerah. Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan Pameran Seni dan Budaya Serumpun Sakai, Melayu,  Minangkabau, Batak dan Jawa sekaligus Festival Nyanyi Lagu Melayu dan Minang yang digelar di halaman Gedung Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kecamatan Mandau, Kamis (5/11/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Bupati Bengkalis diwakili Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Bengkalis, Dr. Ariyadi, yang hadir sekaligus menyampaikan sambutan pemerintah daerah.

Dalam sambutan Bupati Bengkalis yang dibacakannya, Pemerintah Kabupaten Bengkalis menyampaikan apresiasi kepada Generasi Muda Satu Atap, panitia pelaksana, tokoh adat, seniman, budayawan, serta seluruh pihak yang telah menggagas dan menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar panggung hiburan, pertunjukan tari dan musik, ataupun perlombaan bernyanyi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bersama untuk merawat identitas budaya, mempertemukan keberagaman, serta memperkuat persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Kabupaten Bengkalis, lanjutnya, memiliki kekayaan budaya yang tumbuh dari keberagaman suku dan tradisi. Mulai dari Suku Sakai dengan kearifan adat dan nilai-nilai lokalnya, Melayu dengan keluhuran adat serta tradisinya, hingga Minangkabau dengan kekayaan filosofi dan budayanya.

Seluruhnya merupakan bagian dari mozaik kebudayaan yang memperkaya identitas Kabupaten Bengkalis sebagai Negeri Junjungan.

“Meski kita berbeda suku, adat, dan budaya, kita tetap berada dalam satu rumah besar, yakni Kabupaten Bengkalis, dengan tanggung jawab dan cita-cita yang sama untuk mewujudkan daerah yang bermarwah, maju, sejahtera, serta unggul di Indonesia,” demikian pesan Bupati dalam sambutan yang disampaikan Asisten I.

Pemerintah daerah juga berharap kegiatan tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk menampilkan kreativitas, mengembangkan bakat dan potensi, sekaligus mengenal, mencintai, serta melestarikan akar budaya masing-masing.

Seni dan budaya, menurutnya, tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tontonan maupun hiburan, tetapi harus menjadi identitas dan kebanggaan daerah serta kekuatan untuk memperkokoh persatuan dan menjaga keharmonisan masyarakat.

Tidak hanya dari sisi pelestarian budaya, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Pameran dan festival seni budaya dinilai memiliki potensi menjadi daya tarik wisata, menggerakkan pelaku UMKM, memperkenalkan produk lokal, serta membuka ruang bagi para seniman dan budayawan untuk terus berkarya.

Dengan demikian, budaya tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dikembangkan sebagai kekuatan pembangunan dan sumber peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Bengkalis, lanjutnya, berkomitmen mendukung pelestarian adat, seni, dan budaya daerah melalui kolaborasi bersama lembaga adat, komunitas budaya, organisasi masyarakat, dunia pendidikan, serta seluruh elemen masyarakat.

Namun, upaya tersebut membutuhkan kepedulian, partisipasi, dan semangat gotong royong seluruh masyarakat agar kekayaan budaya daerah tetap terpelihara dan dapat diwariskan kepada generasi penerus.

Menutup sambutannya, Bupati Bengkalis mengajak seluruh masyarakat menjadikan keberagaman sebagai jembatan pemersatu, bukan sekat yang memisahkan.

“Mari kita jaga bersama warisan leluhur, perkuat tali persaudaraan, dan wariskan kebanggaan terhadap budaya daerah kepada generasi penerus,” pesannya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat kebersamaan antarsuku di Kecamatan Mandau semakin kuat. Perbedaan budaya bukan menjadi penghalang, melainkan kekuatan untuk merawat keharmonisan dan bersama-sama membangun Kabupaten Bengkalis.**

Komentar