DDC Duri Jembatani Komunikasi Teman Tuli dan Teman Dengar Lewat Bahasa Isyarat

Bengkalis94 Dilihat

DURI,DURIPOS.COM – Perbedaan bukan penghalang untuk menjalin persahabatan. Dengan bahasa isyarat, kepedulian, dan kemauan untuk saling memahami, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkomunikasi dan membangun kebersamaan.

Semangat itulah yang dihadirkan Duri Disabilities Center (DDC) Kecamatan Mandau, Duri, melalui kegiatan “Temu Isyarat: Teman Tuli dengan Teman Dengar” yang digelar di Moment Cofy, Jalan Desa Harapan, Duri, Minggu (25/10/2026), pukul 15.30 hingga 17.30 WIB.

Kegiatan ini diikuti anak-anak disabilitas, masyarakat, serta pengurus DDC Duri, di antaranya Ketua DDC Mukhlis, Sekretaris Tia, dan Bendahara Melly bersama pengurus lainnya.

Ketua DDC Duri, Mukhlis, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan untuk memperkenalkan bahasa isyarat kepada masyarakat luas, sekaligus membangun pemahaman tentang cara berkomunikasi dengan teman Tuli atau penyandang tunarungu.

“Melalui kegiatan Temu Isyarat ini, kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat bagaimana cara memahami dan berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Kami berharap tidak ada lagi sekat dalam berkomunikasi antara teman Tuli dan teman dengar,” ujar Mukhlis.

Menurutnya, kemampuan berkomunikasi merupakan bagian penting dalam membangun hubungan sosial yang setara. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemauan untuk belajar memahami kebutuhan komunikasi penyandang disabilitas, bukan justru membiarkan keterbatasan pendengaran menjadi penghalang untuk berinteraksi.

Mukhlis menegaskan, DDC Duri ingin terus mendorong terciptanya lingkungan yang inklusif, tempat anak-anak berkebutuhan khusus dapat berinteraksi, menjalin persahabatan, serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan masyarakat tanpa merasa dibatasi oleh perbedaan.

“Harapan kami, ke depan anak-anak berkebutuhan khusus bisa berkomunikasi tanpa batas. Kita ingin membangun persahabatan yang setara, belajar mendengarkan dengan hati, dan mewujudkan inklusi untuk semua,” ungkapnya.

Ia juga mengajak perusahaan, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat untuk ikut mengambil bagian dalam gerakan tersebut. Salah satunya dengan mempelajari dasar-dasar bahasa isyarat agar komunikasi dengan teman Tuli dapat terjalin lebih mudah dan nyaman.

“Kami membuka diri kepada perusahaan maupun komunitas yang ingin belajar bahasa isyarat dan memahami cara berkomunikasi dengan teman-teman berkebutuhan khusus. Kepedulian ini tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata,” tambah Mukhlis.

Selain aktif memimpin DDC Duri, Mukhlis juga menjabat sebagai Ketua Komite SLB Cendana Duri. Ia turut terlibat dalam kegiatan pembinaan dan dukungan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk mengikuti kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di Jakarta beberapa waktu lalu.

Bagi DDC Duri, kegiatan Temu Isyarat bukan sekadar pertemuan untuk belajar bahasa, melainkan langkah kecil untuk membangun masyarakat yang lebih terbuka, ramah, dan menghargai keberagaman.

Mukhlis berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk mendukung anak-anak berkebutuhan khusus agar memperoleh kesempatan yang setara dalam kehidupan sosial.

“Mari kita ikut ambil bagian dalam mendukung anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka memiliki potensi, kemampuan, dan kesempatan untuk berkembang seperti orang lain. Yang dibutuhkan adalah dukungan, ruang untuk bertumbuh, dan lingkungan yang mau menerima mereka dengan setara,” tutupnya.**

Komentar