Ditengah Keterbatasan, SLB Bumi Manggalo Terus Berjuang Membuka Akses Pendidikan Bagi Anak Disabilitas

Bengkalis997 Dilihat

DURI,DURIPOS.COM — Di balik ruang-ruang kelas yang sederhana, tersimpan semangat besar untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya atas pendidikan. Hal itu pula yang terus diperjuangkan Sekolah Luar Biasa (SLB) Bumi Manggalo, yang menjadi tempat belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus di tengah berbagai keterbatasan.

Saat ini, SLB Bumi Manggalo, memiliki 53 siswa, yang terdiri dari 29 siswa jenjang Sekolah Dasar (SD), 16 siswa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 8 siswa jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

Para siswa memiliki beragam jenis disabilitas, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa hingga tunalaras. Mereka mendapatkan pendampingan dalam proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Untuk mendukung proses pendidikan tersebut, SLB Bumi Manggalo yang berada di Kelurahan Balai Raja, Kecamatan Pinggir  Kebupaten Bengkalis, saat ini didukung oleh 10 orang guru.

Namun, perjalanan memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak disabilitas bukan tanpa tantangan. Salah satu persoalan yang masih menjadi kendala adalah keterbatasan transportasi. Kondisi tersebut menyebabkan masih terdapat anak yang belum dapat bersekolah karena tidak memiliki sarana transportasi untuk menuju sekolah.

Kepala Sekolah SLB Bumi Manggalo Aulia Nur Izzah

Kepala SLB Bumi Manggalo, Aulia Nur Izzah, S.Pd., Gr., saat dikonfirmasi Duripos.com, Rabu (9/9/2026), mengungkapkan bahwa persoalan transportasi menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap akses pendidikan siswa.

Selain itu, pihak sekolah juga menghadapi tantangan berupa masih kurangnya dukungan dari sebagian orang tua. Kondisi ekonomi keluarga juga menjadi perhatian, karena sejumlah siswa berasal dari keluarga kurang mampu sehingga belum memiliki seragam sekolah.

“Masih banyak siswa yang tidak sekolah karena tidak ada transportasi. Selain itu, dukungan dari orang tua masih menjadi kendala, dan banyak siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu sehingga belum memiliki seragam sekolah,” ujar Aulia.

Menurutnya, berbagai keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat para guru dan tenaga kependidikan untuk tetap memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi peserta didik.

Di tengah kondisi tersebut, pihak sekolah berharap adanya perhatian dan dukungan lebih luas dari berbagai pihak, baik pemerintah, dunia usaha maupun masyarakat.

Siswa SLB Bumi Manggalo Membuat Kerajinan dari Kayu

Aulia berharap ke depan terdapat bantuan tambahan berupa donasi kinerja bagi guru dan tenaga kependidikan (tendik) sebagai bentuk dukungan terhadap mereka yang terus mengabdikan diri dalam memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak disabilitas.

Selain itu, sekolah juga berharap adanya donasi Tunjangan Hari Raya (THR) dari tahun ke tahun, serta bantuan pakaian seragam bagi guru dan siswa.

“Kami berharap ke depan ada bantuan tambahan donasi kinerja untuk guru dan tendik, adanya donasi THR dari tahun ke tahun, serta bantuan pakaian seragam untuk guru dan siswa,” harap Aulia.

Bagi SLB Bumi Manggalo, pendidikan bukan sekadar aktivitas belajar di dalam kelas. Lebih dari itu, pendidikan menjadi jalan untuk membantu anak-anak disabilitas mengenali potensi, membangun kemandirian, dan memiliki kesempatan yang sama untuk menatap masa depan.

Karena itu, dukungan terhadap sekolah luar biasa bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Perhatian orang tua, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi bagian penting agar tidak ada anak disabilitas yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan hanya karena keterbatasan transportasi maupun kondisi ekonomi keluarga.**

Komentar