Saat Asap Belum Datang, Warga Air Jamban Diajak Belajar Mencegah Karhutla dari Halaman Rumah

Bengkalis217 Dilihat

DURI,DURIPOS.COM – Api besar terkadang bermula dari sesuatu yang dianggap sepele. Segenggam rumput kering, tumpukan daun di halaman, atau sampah rumah tangga yang dibakar tanpa pengawasan. Ketika kemarau datang, ditambah angin yang bertiup kencang, api kecil itu bisa berubah menjadi persoalan besar.

Pesan sederhana namun penting itulah yang dibawa Tim Penyuluhan Karhutla Mabes TNI saat hadir di tengah masyarakat Kelurahan Air Jamban, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Senin (31/8/2026).

Ketua Tim Penyuluhan Karhutla Mabes TNI, Brigjen TNI (Mars) Freddy Jhon Hamonangan Pardosi, mengajak masyarakat tidak menganggap remeh kebiasaan membakar sampah, rumput maupun dedaunan kering.

Menurutnya, menjaga kebersihan lingkungan merupakan kebiasaan yang baik. Namun, cara membersihkan lingkungan dengan membakar justru dapat menjadi awal munculnya bencana.

“Jangan sampai kebiasaan membersihkan lingkungan justru menimbulkan persoalan yang lebih besar. Apalagi ketika musim kemarau, kondisi rumput dan dedaunan kering sangat mudah terbakar,” ujarnya.

Bagi masyarakat, pesan tersebut bukan sekadar teori. Ketika karhutla terjadi, asap dapat masuk ke ruang-ruang kehidupan warga mengganggu kesehatan, aktivitas pendidikan, transportasi hingga roda perekonomian. Karena itu, pencegahan harus dimulai sebelum api membesar.

“Jangan menunggu api membesar baru kita bergerak. Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan setelah kebakaran terjadi,” tegasnya.

Dari Kebiasaan Kecil Menjadi Kepedulian Bersama

Brigjen TNI (Mars) Freddy Jhon Hamonangan Pardosi juga mengingatkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan pemerintah atau aparat. Masyarakat memiliki peran penting karena berada paling dekat dengan lingkungan dan dapat menjadi pihak pertama yang melihat munculnya potensi kebakaran.

Ia meminta warga segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas pembakaran yang berpotensi meluas. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan harus dibangun bersama mulai dari tingkat paling bawah.

“Pemerintah, TNI, Polri, perangkat kecamatan, desa, kelurahan dan masyarakat harus memiliki kepedulian yang sama. Mari kita jaga lingkungan bersama-sama,” pungkasnya.

Kehadiran Tim Mabes TNI sendiri merupakan bagian dari upaya bersama dalam menangani persoalan karhutla. Satuan tugas yang dibentuk melibatkan unsur TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

“Kami datang bukan karena tidak ada persoalan. Justru kami datang karena ada persoalan yang harus kita selesaikan bersama,” ungkapnya.

Ia menegaskan, dalam kondisi bencana, TNI memiliki peran membantu pemerintah melakukan penanggulangan sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat.

Mendengar Suara dari Bawah

Danramil 03/Mandau Kapten Czi Suratmin melihat kegiatan tersebut bukan hanya sebagai forum sosialisasi, tetapi juga kesempatan untuk mendengar langsung persoalan masyarakat.

Menurutnya, setiap program yang direncanakan harus melihat kondisi nyata di lapangan. Aspirasi dari masyarakat dan aparat tingkat bawah menjadi bahan penting dalam menentukan langkah ke depan.

“Kita ingin berdiskusi dan berbagi informasi. Bapak-Bapak yang berada di lapangan tentunya lebih memahami kondisi wilayah, baik dari sisi hukum, kultur masyarakat, kondisi tanah maupun karakteristik lingkungan setempat,” katanya.

Ia menyebut, sejumlah persoalan mungkin saat ini dampaknya belum terlalu besar. Namun, jika menyangkut kesehatan, lingkungan dan kehidupan anak-anak, persoalan tersebut tidak boleh dianggap remeh.

Apalagi untuk menangani persoalan di wilayah luas seperti perkebunan atau lahan besar, dibutuhkan kerja bersama. Keterbatasan personel dan sarana di tingkat kecamatan maupun desa juga menjadi alasan pentingnya sinergi antara pemerintah, TNI, Polri dan masyarakat.

“Apa yang kita dapatkan dari diskusi ini nantinya akan menjadi catatan dan bahan untuk disampaikan kepada pihak yang lebih tinggi. Prinsipnya dari bawah ke atas,” jelas Suratmin.

Baginya, suara masyarakat bukan sekadar masukan. Keluhan dan persoalan yang ditemukan di lapangan harus dihimpun, didiskusikan dan dicarikan jalan keluar bersama.

Air Jamban: Semoga Tak Ada Lagi Bencana

Di tengah pertemuan itu, Lurah Air Jamban Rifky Elyaningsih, S.STP., M.Si, menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran Tim Penyuluhan Karhutla Mabes TNI.

Bagi Rifky, kedatangan tim dari Mabes TNI menjadi kehormatan sekaligus kebanggaan karena penyuluhan dapat dilakukan langsung di tengah masyarakat.

Ia juga mengapresiasi dukungan Danramil 03/Mandau serta para ketua RT dan RW yang turut hadir dan mendukung kegiatan tersebut.

Rifky berharap ilmu dan pemahaman yang diperoleh dalam penyuluhan tidak berhenti di ruangan pertemuan. Pengetahuan tersebut diharapkan diteruskan dan diterapkan di lingkungan masing-masing.

Sebab, menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah maupun aparat. Ia dimulai dari kepedulian setiap orang terhadap tempat tinggalnya sendiri.

“Yang paling utama, tentunya kami berharap tidak terjadi lagi kejadian bencana di wilayah Kelurahan Air Jamban. Semoga kita semua senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan dan perlindungan,” harap Rifky.

Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama mengenai dampak, penanganan dan langkah pencegahan karhutla.

Dari forum itu, satu pesan menjadi benang merah: karhutla tidak harus menunggu menjadi bencana untuk ditangani. Api bisa dicegah sejak kecil, bahkan sebelum dinyalakan. Dan pencegahan itu dimulai dari kepedulian sederhana di halaman rumah sendiri.**

Komentar