Empat Hari Semarakkan Keberagaman, Perhelatan Budaya Serumpun Resmi Ditutup

Bengkalis81 Dilihat

DURI,DURIPOS.COM – Setelah berlangsung selama empat hari dengan menghadirkan beragam kekayaan seni, budaya, dan tradisi lintas suku, perhelatan Budaya Serumpun yang digelar Panitia Satu Atap di halaman Gedung Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Mandau, Minggu malam (8/11/2026), resmi ditutup.

Malam penutupan berlangsung meriah dan menjadi puncak dari rangkaian kegiatan yang mengusung semangat kebersamaan dalam keberagaman. Berbagai penampilan seni dan budaya dari sejumlah daerah mewarnai panggung hiburan, mulai dari seni Melayu, Minangkabau, Batak hingga kesenian tradisional Jawa, Reog Ponorogo.

 

Sebelum acara ditutup, panitia terlebih dahulu mengumumkan para pemenang Festival Lagu Melayu-Minangkabau. Dalam kompetisi tersebut, peserta asal Solok, Sumatera Barat, berhasil meraih predikat juara umum dan berhak membawa pulang piala, uang tunai, serta satu unit sepeda motor listrik.

Wakil Ketua Panitia, Juprial, SE, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Mewakili Ketua Panitia, Syamsurizal, Juprial mengatakan, keberhasilan Budaya Serumpun tidak terlepas dari dukungan, partisipasi, dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat, khususnya perwakilan berbagai suku yang berada di Kecamatan Mandau.

” kegiatan ini tidak akan bisa terselenggara jika tidak ada dukungan dan keikutsertaan, LAMR Mandau, para perwakilan suku dan masyarakat di Mandau,” ungkap Juprial.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Camat Mandau, LAMR Mandau, perwakilan suku Melayu, Minangkabau, Batak, Jawa, serta suku lainnya yang telah berpartisipasi menampilkan kekayaan budaya masing-masing. Apresiasi turut diberikan kepada para pelaku UMKM yang ikut meramaikan kegiatan melalui berbagai produk dan usaha yang ditampilkan.

Menurutnya, keterlibatan seluruh unsur masyarakat menjadi bukti bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk membangun kebersamaan, melainkan kekuatan dalam menjaga persatuan dan keharmonisan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Selama empat hari pelaksanaan, Budaya Serumpun tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni dan tradisi, tetapi juga menjadi wadah silaturahmi, mempererat hubungan antarsuku, sekaligus memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat.

Berakhirnya kegiatan tersebut diharapkan tidak menjadi akhir dari semangat kebersamaan yang telah terbangun. Sebaliknya, Budaya Serumpun menjadi momentum untuk terus merawat warisan leluhur, memperkuat toleransi, serta menjaga identitas budaya berbagai suku yang hidup berdampingan di Kecamatan Mandau.

Keberagaman boleh berbeda, tetapi semangat persatuan tetap satu.**

Komentar

Berita Terbaru