Darma Firdaus Sitompul, Merawat Kepemimpinan Lewat Pena dan Gelanggang Olahraga

Bengkalis109 Dilihat

DURIPOS.COM,BENGKALIS – Di balik sosoknya yang dikenal aktif dalam birokrasi pemerintahan, organisasi, dan dunia olahraga, Darma Firdaus Sitompul, SAP., M.Si., AIFO., menyimpan sisi lain yang mungkin belum banyak diketahui publik.

Pria kelahiran Bengkalis, 30 Januari 1986, yang akrab disapa Ucok itu ternyata memiliki kedekatan yang kuat dengan dunia sastra, khususnya puisi.

Bagi Darma, puisi bukan sekadar rangkaian kata yang tersusun dalam bait. Puisi menjadi ruang untuk merawat kepekaan, membaca kehidupan, sekaligus mengolah berbagai peristiwa menjadi refleksi.

Kecintaan tersebut membawanya tidak hanya menjadi penikmat sastra. Pada periode 2019–2023, Darma dipercaya memimpin Rumah Sastra Bengkalis. Dari ruang tersebut, ia ikut mendorong hadirnya wadah bagi para penyair, penulis, pemikir, dan pencinta seni untuk bertemu, bertukar gagasan, serta menjaga denyut literasi di daerah.

Di tangannya, sastra tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Justru melalui puisi, berbagai persoalan manusia, lingkungan, sosial, spiritual, hingga kerinduan terhadap tanah kelahiran dapat dibicarakan dengan bahasa yang lebih lembut.

Dari Lapas, Gelanggang Olahraga hingga Panggung Sastra

Perjalanan Darma memperlihatkan lintasan kehidupan yang cukup beragam. Sejak 2009 hingga kini, ia mengabdi sebagai pegawai di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bengkalis.

Di luar tugas kedinasan, aktivitasnya juga bersentuhan erat dengan dunia olahraga. Ia dipercaya memimpin KONI Kabupaten Bengkalis dalam dua periode, yakni 2018–2023 dan 2023–2027.

Dunia organisasi dan kewirausahaan pun menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Darma pernah dipercaya sebagai Bendahara Umum HIPMI Riau periode 2014–2017 dan Ketua APJI Kabupaten Bengkalis periode 2015–2019.

Aktivitas sosial dan keagamaan turut melengkapi kiprahnya. Ia tercatat aktif sebagai Bendahara Umum BKPRMI Riau periode 2024–2029 serta Ketua Umum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kabupaten Bengkalis periode 2021–2026.

Di tengah berbagai aktivitas tersebut, Darma masih menyempatkan diri menekuni dunia akademik. Saat ini ia tengah menjalani pendidikan sebagai kandidat mahasiswa doktor di Universitas Islam Riau.

Kesibukan di berbagai bidang ternyata tidak membuat hubungan Darma dengan dunia sastra terputus. Pena tetap menjadi ruang baginya untuk menumpahkan kegelisahan, kerinduan, kenangan, dan perenungan.

Ketika Kata Menjadi Ruang Perenungan

Sejumlah puisinya memperlihatkan bagaimana Darma memandang hubungan manusia dengan alam, waktu, kenangan, dan perasaan.

Dalam puisi Di Ujung Koma, Senyummu, misalnya, Darma merangkai kerinduan dan luka melalui metafora yang penuh perenungan.

“Engkau tak tereja
Sedangkan koma kautitip pada senyummu”

Puisi tersebut ditulis di Bengkalis pada 5 April 2021.

Sementara dalam Kepada Cebu dan Pulauku, yang ditulis di Cebu, Filipina, 2 Mei 2021, Darma membawa pembaca masuk ke suasana perjalanan, kesunyian, kenangan, hingga persoalan persatuan dan kebersamaan.

Ada pula Sajak Purba yang berbicara tentang jejak, rindu, dan keterasingan, serta Persimpangan yang menggambarkan manusia melalui simbol jalan, pohon, hujan, angin, dan pertemuan.

Dalam Persimpangan, Darma menulis tentang dua sosok yang seolah berdiri di ruang sunyi, kemudian melebur menjadi satu dalam perjalanan batin.

“Aku adalah kamu / Dipersimpangan sepi / Menanti abadi / Menjelang pagi.”

Bait-bait tersebut memperlihatkan kecenderungan Darma menggunakan benda dan peristiwa di sekitar sebagai medium untuk menyampaikan pengalaman batin.

Sastra dan Kepemimpinan

Bagi Darma, dunia sastra dan kepemimpinan memiliki titik temu. Keduanya membutuhkan ketulusan, kepekaan, visi, serta kemampuan membaca keadaan.

Jika olahraga mengajarkan tentang disiplin dan perjuangan, organisasi menuntut kemampuan bekerja bersama, sementara sastra memberikan ruang untuk melihat kehidupan dari sisi yang lebih dalam.

Karakter itulah yang kemudian berjalan beriringan dalam perjalanan Darma—sebagai aparatur, organisator, tokoh olahraga, aktivis sosial-keagamaan, sekaligus penyair.

Karya-karyanya bahkan mendapat perhatian dari sejumlah penyair Indonesia.

Penyair Indonesia Joko Pinurbo menilai puisi-puisi Darma dalam antologinya banyak menggunakan personifikasi dan depersonifikasi untuk menggambarkan situasi batin dalam hubungan antarmanusia.

Menurutnya, hubungan rindu antara “aku” dan “kau” kerap digambarkan melalui benda serta peristiwa sehari-hari, yang memperlihatkan persenyawaan antara manusia, alam, dan peristiwa.

Sementara Ketua Penyair Perempuan Indonesia, Kunni Masrohanti, melihat karya Darma sebagai puisi yang mengajak pembacanya untuk masuk lebih dalam ke ruang khayalan dan kenangan.

Apresiasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan kreatif Darma dalam merawat sastra di tengah berbagai tanggung jawab yang dijalaninya.

Pena yang Tetap Menyala

Dari ruang kerja pemerintahan, lingkungan Lapas, gelanggang olahraga, panggung organisasi hingga ruang sastra, Darma Firdaus Sitompul menjalani berbagai peran dalam satu perjalanan.

Ada ketegasan ketika ia berada di tengah organisasi. Ada semangat kompetisi ketika berada di gelanggang olahraga. Namun, di antara kesibukan tersebut, ada pula ruang sunyi tempat ia kembali menjadi seorang penyair—menatap kehidupan melalui kata-kata.

Bagi Darma, menulis puisi bukan sekadar menghasilkan karya. Ada upaya untuk menjaga rasa, membaca zaman, dan merawat hubungan manusia dengan lingkungan serta sesamanya.

Pada akhirnya, perjalanan Darma menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus berbicara dengan suara keras. Kadang, kepemimpinan juga dapat tumbuh dari kepekaan membaca keadaan, keberanian merenung, dan kemampuan menerjemahkan pengalaman menjadi kata.

Dari Bengkalis, pena Darma terus menulis. Di antara bait dan perjalanan hidup, ia merawat satu hal yang sama: upaya untuk terus tumbuh dan memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.**

Komentar