MANDAU,DURIPOS.COM — Senin malam (24/8/2026), suasana di Masjid Al-Muhajirin, Kelurahan Air Jamban, Kecamatan Mandau, terasa berbeda. Lantunan selawat dan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW mengalun, mengiringi pertemuan warga yang datang bukan sekadar untuk memperingati Maulid Nabi, tetapi juga untuk kembali mengingat nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah suasana religius itu, pesan tentang menjaga generasi muda menjadi salah satu perhatian utama. Para orang tua diajak lebih sering membawa anak-anak ke masjid, membangun lingkungan yang positif, sekaligus menjauhkan mereka dari berbagai ancaman seperti narkoba dan balap liar.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut dihadiri perwakilan Kecamatan Mandau, Kasubag Keuangan Kecamatan Mandau Desi Susilfayeni, SAP., Lurah Air Jamban Rifky Elyaningsih, S.STP., MSi., Sekretaris Lurah Dedi Dimhudi, SAP., Kasi Kelurahan Air Jamban beserta staf, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Ketua RW 20 Mukhlis, Ketua RT 01 hingga RT 08, Ketua DKM Al-Muhajirin Marianto serta masyarakat.
Hadir sebagai penceramah, Sekretaris MUI Kecamatan Mandau serta Imam Masjid Al-Muhajirin Ustaz Idris Nasution atau disingkat UIN. Melalui tausiah yang disampaikan, jamaah diajak memperkuat iman dan menjadikan akhlak Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan.
Mewakili Camat Mandau, Desi Susilfayeni mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam menghidupkan kegiatan keagamaan di lingkungan tersebut. Menurutnya, Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Lebih dari itu, momentum tersebut harus mampu melahirkan semangat untuk mempererat silaturahmi, memperkuat keimanan dan menumbuhkan kepedulian antar warga.
“Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum bagi kita untuk kembali meneladani akhlak Rasulullah. Mari kita jadikan nilai-nilai keteladanan beliau sebagai pedoman dalam kehidupan, sekaligus memperkuat kebersamaan dan kepedulian di lingkungan masyarakat,” ujar Desi.
Pesan serupa datang dari Lurah Air Jamban Rifky Elyaningsih. Ia melihat masjid memiliki peran penting dalam membangun karakter masyarakat, terutama generasi muda.
“Masjid harus terus kita hidupkan dengan kegiatan-kegiatan positif. Anak-anak perlu diperkenalkan dan didekatkan dengan masjid sejak dini, sehingga mereka memiliki lingkungan yang baik dan mendapatkan pembinaan keagamaan,” ungkapnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan, Lurah Perempuan yang akrab disapa Kiki itu juga menyerahkan bantuan kepada pengurus Masjid Al-Muhajirin.
Sementara itu, Ketua RW 20 Air Jamban Mukhlis menyampaikan pesan yang tak kalah penting. Ia mengajak seluruh orang tua untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga anak-anak dari pengaruh lingkungan yang dapat merusak masa depan mereka.
“Mari kita ajak anak-anak kita lebih sering ke masjid. Hindari bahaya narkoba, balap liar dan kegiatan negatif lainnya. Mari kita perkuat iman dengan mendekatkan diri kepada Allah dan mencontoh keteladanan Nabi Muhammad SAW,” kata Mukhlis.
Menurutnya, menjaga anak bukan hanya tugas keluarga, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.
Di sisi lain, Mukhlis juga mengingatkan warga untuk tidak mengabaikan kondisi lingkungan, terlebih saat musim kemarau. Ia meminta masyarakat tidak membakar sampah sembarangan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
“Untuk lingkungan, jangan membakar sampah sembarangan. Kondisi kemarau seperti saat ini membutuhkan kewaspadaan kita bersama,” pesannya.
Malam itu, suasana semakin semarak dengan penampilan anggota Badroh Ashabul Yamin Belading. Lantunan selawat menjadi pengikat suasana, menyatukan anak-anak, orang tua dan para tokoh masyarakat dalam satu ruang kebersamaan.
Perwakilan pihak Kecamatan Mandau juga memberikan hadiah kuis kepada anak-anak. Wajah-wajah ceria mereka menjadi warna tersendiri dalam peringatan Maulid Nabi tersebut.
Dari Masjid Al-Muhajirin, peringatan Maulid Nabi akhirnya bukan hanya menjadi cerita tentang masa lalu dan keteladanan Rasulullah. Ia menjadi pengingat bahwa menjaga iman, merawat lingkungan dan melindungi anak-anak dari pengaruh buruk adalah pekerjaan bersama yang harus dimulai dari lingkungan terdekat.
Sebab, masjid bukan sekadar tempat berkumpul untuk beribadah. Dari sanalah, harapan tentang generasi yang lebih baik dan lingkungan yang lebih aman dapat terus tumbuh.**











Komentar