DURI, DURIPOS.COM – Di balik keberadaan Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) di berbagai daerah, tersimpan perjalanan panjang para perantau Pariaman dalam menjaga hubungan kekeluargaan, adat dan persaudaraan di tanah rantau.
Sejarah itu turut menjadi bagian dari perjalanan PKDP di Riau. Salah seorang tokoh PKDP Provinsi Riau, Buya Syarial Alidin, yang telah aktif dalam kepengurusan sejak 1991, kembali mengisahkan perjalanan tersebut saat menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) PKDP Kabupaten Bengkalis di Susuka Hotel Duri, Minggu (27/9/2026).
Bagi Syarial, berbicara tentang PKDP bukan sekadar membicarakan pergantian kepengurusan. Di dalamnya terdapat sejarah perantauan, perjuangan generasi terdahulu, perjalanan organisasi hingga upaya mempertahankan nilai adat dan persaudaraan.
Selama puluhan tahun berkecimpung di PKDP, Syarial mengaku beberapa kali terlibat dalam pelaksanaan Musda serta penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), termasuk pembahasan organisasi di tingkat nasional.
Ia menyebut Riau, khususnya Pekanbaru, memiliki posisi penting dalam perjalanan organisasi PKDP. Menurutnya, perkembangan organisasi PKDP di Riau kemudian menjadi salah satu rujukan bagi organisasi masyarakat Pariaman di daerah lain.
“Kalau berbicara PKDP, rujukannya di Indonesia itu Riau, khususnya Pekanbaru. Duri dan Dumai juga memiliki karakter yang hampir sama karena sama-sama berada di Riau,” ujarnya.
Jejak Perantauan yang Telah Berlangsung Lama
Menurut Syarial, keberadaan masyarakat Pariaman di tanah Melayu bukanlah sesuatu yang baru. Hubungan masyarakat Minangkabau, terutama kawasan pesisir Pariaman, dengan wilayah Melayu telah berlangsung sejak masa lalu.
Ia mengaitkan perjalanan tersebut dengan sejarah kawasan Siak dan hubungan masyarakat Minangkabau dengan Melayu yang telah terjalin sejak masa lampau.
“Orang Pariaman pada dasarnya sudah lama berada di negeri Melayu ini. Jadi, kalau berbicara tentang perantauan, sebenarnya sejarahnya panjang,” katanya.
Jejak itu kemudian berlanjut hingga masa sebelum dan setelah kemerdekaan Indonesia. Generasi terdahulu dari Sumatera Barat datang ke Pekanbaru dengan sarana transportasi yang sangat terbatas. Bahkan, kata Syarial, sebagian orang tua mereka harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
“Orang tua-tua kita dahulu banyak yang berangkat sebelum kemerdekaan. Ada yang berjalan kaki menuju Pekanbaru. Perjalanan itu bukan sesuatu yang mudah,” tuturnya.
Perjalanan tersebut tidak hanya menggambarkan keberanian meninggalkan kampung halaman, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah terbentuknya komunitas perantau Minangkabau di Riau.
Kondisi Sumatera Barat yang mengalami berbagai dinamika sosial dan politik pada era 1950-an turut memengaruhi kehidupan masyarakat. Di tengah situasi tersebut, masyarakat perantauan membangun kesadaran untuk memperkuat hubungan sosial sekaligus tetap menjaga ikatan dengan kampung halaman.
Dari Organisasi Perantau Menjadi PKDP
Dinamika masyarakat Pariaman di berbagai daerah kemudian melahirkan sejumlah organisasi paguyuban. Menurut Syarial perkembangan organisasi tersebut akhirnya menemukan satu bentuk bersama.
Ia menyebut tahun 1988 menjadi salah satu tonggak penting ketika organisasi masyarakat Pariaman di berbagai daerah kemudian disatukan dengan nama Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP).
“Nama PKDP yang digunakan secara bersama itu berasal dari organisasi yang ada di Riau. Kemudian nama-nama organisasi orang Pariaman di berbagai daerah disatukan,” jelasnya.
Seiring perjalanan waktu, dinamika organisasi juga melahirkan wadah bagi generasi muda Pariaman. Salah satunya adalah Gempas, Generasi Muda Pariaman Sadar, yang menurut Asrial menjadi bagian dari upaya generasi muda perantau memperkuat hubungan sesama perantau sekaligus dengan kampung halaman.
Namun, perjalanan organisasi tidak selalu berjalan tanpa perbedaan. Musyawarah, pergantian kepengurusan dan perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika sebuah organisasi.
Bagi Syarial, perbedaan tersebut jangan sampai menghilangkan hakikat utama PKDP sebagai wadah kekeluargaan.
“Kalau ada masalah di sini, mari sama-sama kita bahas, sama-sama memberikan pemikiran. Jangan sampai persoalan organisasi membuat kita kehilangan hubungan sebagai keluarga,” tegasnya.
AD/ART dan Adat Menjadi Pegangan
Syarial mengingatkan bahwa kekuatan organisasi masyarakat Pariaman tidak hanya terletak pada AD/ART. Ada nilai adat dan kekerabatan yang menurutnya justru menjadi fondasi penting dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
“Di samping anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, kita punya hukum adat, yaitu raso jo pareso, alua jo patuik. Kalau itu kita pegang dan dijalankan, insyaallah ke depan kita bisa menjaga yang terbaik,” katanya.
Falsafah raso jo pareso, alua jo patuik mengandung pesan agar setiap persoalan dipertimbangkan dengan rasa, kepatutan dan kebijaksanaan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pendapat tidak harus berujung pada pertentangan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang untuk mencari jalan keluar melalui musyawarah.
Syarial juga mengingatkan falsafah alam takambang jadi guru serta prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah sebagai nilai yang dapat menjadi pegangan dalam kehidupan masyarakat.
Ia kemudian mengutip ungkapan adat yang menggambarkan pentingnya menjaga budi dan bahasa dalam pergaulan.
“Nan kuriak kundi, nan merah sago. Nan kuriak kundi, nan indah baso. Nan indah itu bukan hanya kata-kata, tetapi budi dan bahasa yang baik,” ujarnya.
Musda Jangan Memutus Tali Persaudaraan
Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah pelaksanaan Musda PKDP Kabupaten Bengkalis. Bagi Asrial, musyawarah merupakan bagian dari proses organisasi, tetapi persaudaraan jauh lebih panjang daripada sebuah periode kepengurusan.
Ia berharap seluruh tahapan musyawarah dapat berlangsung dalam suasana kekeluargaan.
“Kita ini bersaudara. Kalau ada perbedaan, mari kita cari jalan keluarnya bersama. Jangan sampai tali yang sudah ada menjadi putus hanya karena persoalan organisasi,” pesannya.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya terhadap keberadaan PKDP di Duri dan Riau yang dinilainya terus berkembang. Menurutnya, perjalanan PKDP di Riau menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan organisasi masyarakat Pariaman hingga tingkat nasional.
“Bangga menjadi orang Duri dan menjadi bagian dari PKDP. Sumber dan perkembangan organisasinya juga tidak terlepas dari kita di Riau,” pungkasnya.
Sejarah yang diceritakan Buya Syarial Alidin akhirnya bermuara pada satu pesan sederhana: organisasi boleh memiliki struktur, kepengurusan dan aturan, tetapi PKDP lahir dari hubungan antarmanusia yang lebih dalam—hubungan kekeluargaan dan persaudaraan sesama perantau Pariaman.
Karena itu, pergantian kepengurusan hanyalah bagian dari perjalanan organisasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap generasi mampu meneruskan sejarah tersebut tanpa kehilangan adat, budi, bahasa dan rasa persaudaraan yang menjadi akar keberadaan PKDP di tanah rantau.**











Komentar