Dari Karton ke Kriya Kayu, PHR Buka Jalan Kemandirian Anak SLB Bumi Manggalo

Bengkalis21 Dilihat

DURI,DURIPOS.COM – Sebatang kayu mungkin terlihat sederhana. Namun di tangan anak-anak berkebutuhan khusus di SLB Bumi Manggalo, bahan tersebut perlahan berubah menjadi berbagai karya bernilai guna, mulai dari tempat tisu, holder telepon seluler, rak buku, lampu belajar hingga produk kerajinan lainnya.

Di balik setiap karya, tersimpan proses panjang. Ada tangan-tangan yang belajar mengenal alat, guru yang berulang kali memberikan contoh, serta anak-anak yang terus mencoba ketika hasil yang dibuat belum sempurna.

Kini, keterampilan tersebut tidak lagi sekadar menjadi aktivitas pembelajaran di dalam kelas. Melalui program Community Involvement Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), potensi anak-anak SLB Bumi Manggalo mulai diarahkan menjadi keterampilan produktif yang diharapkan dapat menjadi bekal menuju kemandirian sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Program pemberdayaan tersebut mulai dikembangkan sejak 2025 dengan melihat potensi yang telah dimiliki sekolah. Pengembangannya mencakup sejumlah bidang keterampilan, di antaranya kriya kayu, kriya menjahit dan clay.

PHR memberikan dukungan berupa sarana dan prasarana, pendampingan serta pelatihan. Bantuan tersebut antara lain berupa mesin jahit dan peralatan pendukung kegiatan clay. Memasuki 2026, pengembangan juga diarahkan pada keterampilan kriya kayu.

Perwakilan PHR Kunjungi SLB Bumi Manggalo

Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faisal, mengatakan program tersebut saat ini masih berada dalam tahap pengembangan. Pendampingan dan pelatihan diberikan agar kemampuan yang telah dimiliki anak-anak dapat terus berkembang hingga mempunyai nilai ekonomi.

“Teman-teman luar biasa ini kita berikan pendampingan dan pelatihan, bagaimana mereka nantinya dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk menjadi potensi ekonomi yang dapat mereka generate income dari penjualan,” ungkapnya.

Bagi PHR, pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dilakukan dengan memberikan bantuan peralatan. Yang lebih penting adalah memastikan keterampilan tersebut terus tumbuh, dimanfaatkan dan memberikan manfaat bagi penerima program.

Karena itu, komunikasi antara tim PHR dengan pihak sekolah dan penerima manfaat terus dilakukan secara intensif untuk melihat potensi apa saja yang masih dapat dikembangkan.

Dari Karton, Kini Mengenal Kriya Kayu

Perubahan itu terasa di SLB Bumi Manggalo.

Sebelum mendapatkan dukungan, kegiatan keterampilan di sekolah pada 2022-2023 masih banyak menggunakan bahan sederhana seperti karton. Kini, siswa mulai mendapatkan kesempatan mengenal peralatan serta teknik pengolahan kayu melalui pelatihan yang lebih terarah.

Kerja sama tersebut mencakup pelatihan yang diberikan oleh tenaga bersertifikat, penyediaan alat dan bahan hingga upaya membuka akses pemasaran bagi hasil karya siswa.

Kepala Sekolah SLB Bumi Manggalo, Aulia Nur Izzah, S.Pd., GR, mengatakan pelatihan diberikan mulai dari pengenalan dan penggunaan alat, proses pembuatan produk hingga tahap finishing.

“Pelatihannya mulai dari penggunaan alat, cara menggunakan alat, kemudian cara membuat produk sampai dengan finishing. Guru dan siswa sama-sama mendapatkan pelatihan,” ungkapnya.

Kepala Sekolah SLB Bumi Manggalo Aulia Nur Izzah

Saat ini terdapat empat siswa yang menjadi peserta pembinaan. Mereka terdiri dari tiga siswa tunagrahita dan satu siswa tunarungu. Pendekatan pembelajaran pun disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.

Bagi siswa tunagrahita, guru memberikan contoh secara langsung dan melakukan pendampingan secara berulang karena membutuhkan pengulangan agar mampu mengingat setiap tahapan pekerjaan.

Sementara bagi siswa tunarungu, proses pembelajaran lebih banyak mengandalkan contoh visual. Dengan melihat tahapan pekerjaan, siswa relatif lebih cepat memahami instruksi yang diberikan.

“Kalau tunagrahita, arahannya memang harus berulang. Kalau salah, diperbaiki, kemudian dicoba lagi. Karena kemampuan mengingatnya berbeda. Kalau tunarungu lebih mudah karena dia melihat contoh dan program yang kita berikan,” jelasnya.

Bagi Aulia, hadirnya dukungan PHR juga menjadi bagian dari perjalanan yang tidak langsung dimulai dengan keyakinan.
Sebelumnya, pihak sekolah mengaku sempat ragu ketika mendapatkan tawaran kerja sama. Keraguan itu muncul setelah upaya meminta dukungan kepada sejumlah perusahaan besar di sekitar Duri belum mendapatkan respons.

“Saya awalnya tidak yakin akan ada pihak yang membantu sekolah. Sebelumnya saya sudah mencoba ke beberapa perusahaan besar yang ada di sini untuk meminta bantuan, tetapi tidak mendapatkan respons,” tuturnya.

Siswa SLB Bumi Manggalo Membuat Kerajinan dari Kayu

Keraguan tersebut kemudian berubah setelah pihak PHR menjelaskan langsung program yang akan dijalankan dan membuktikannya melalui bantuan nyata.
Tahap awal dukungan diberikan dalam bentuk penyediaan alat dan bahan. Setelah itu, pendampingan berlanjut melalui pelatihan yang melibatkan guru dan siswa.

Pelatihan tersebut juga difasilitasi secara penuh, termasuk kebutuhan selama kegiatan dan uang saku bagi guru yang mengikuti pelatihan.

Bagi sekolah, dukungan tersebut bukan sekadar menambah peralatan. Kehadiran program membuka kesempatan bagi siswa untuk belajar mengenal keterampilan yang diharapkan dapat menjadi bekal setelah mereka menyelesaikan pendidikan.

Guru Melihat Potensi yang Tak Boleh Disia-siakan.

Di balik perkembangan keterampilan itu, terdapat kesabaran guru yang terus mendampingi anak-anak.

Guru vokasional SLB Bumi Manggalo, Drs. Wartoni, MM.,Pd, mengatakan pengalaman paling berkesan bukan hanya ketika sebuah produk selesai dibuat, melainkan ketika melihat anak-anak mulai memahami tahapan pekerjaan dan mampu menghasilkan karya dengan tangan mereka sendiri.

“Yang sangat berkesan bagi saya ketika anak-anak mulai bisa membentuk dan hasilnya sudah mulai rapi. Walaupun masih ada kekurangan sedikit, itu wajar. Yang penting mereka mau belajar dan berusaha menghasilkan sebuah karya,” ujar Wartoni.

Menurutnya, mengajarkan keterampilan kepada anak berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Kemampuan konsentrasi dan daya tangkap setiap anak berbeda sehingga proses pembelajaran harus dilakukan secara berulang.

“Kadang harus diulang lagi, dijelaskan lagi, kemudian dipraktikkan kembali. Itu memang membutuhkan kesabaran,” katanya.

Siswi SLB Bumi Manggalo sedang melakukan kerajinan Kain

Namun, tantangan tidak hanya datang dari proses pembelajaran.

Sebagian besar siswa berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Kondisi tersebut terkadang membuat orang tua mengalami kesulitan mengantar anak ke sekolah.

Untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan kesempatan belajar dan berlatih, pihak sekolah bahkan tak jarang membantu menjemput siswa ke rumah ketika ada kegiatan tertentu.

Bagi Wartoni, dukungan orang tua menjadi bagian penting dalam proses pengembangan potensi anak.

“Anak-anak ini sebenarnya punya kemampuan. Kalau kemampuan mereka tidak kita maksimalkan, tentu sangat disayangkan,” tuturnya.

Karya siswa pun tidak lagi hanya berada di ruang kelas.

Anak-anak SLB Bumi Manggalo telah dua kali mengikuti pameran. Salah satunya berlangsung di Hotel Amadio dengan menampilkan sejumlah produk, seperti tempat tisu dan tempat telepon genggam.
Yang membuat para guru bangga, karya tersebut tidak hanya dipajang, tetapi juga mendapat perhatian masyarakat dan dibeli konsumen.

“Alhamdulillah, karya-karya anak-anak bisa kami pamerkan dan bahkan dibeli oleh konsumen. Itu yang sangat kami syukuri,” ungkap Wartoni.

Bagi anak-anak, pengalaman tersebut menjadi lebih dari sekadar transaksi. Ada kepercayaan diri yang tumbuh ketika karya yang dibuat dengan tangan sendiri ternyata dihargai dan dibeli orang lain.

Hasil kerajinan Kayu dari Siswa SLB Bumi Manggalo

Pengalaman mengikuti pameran juga menjadi pintu untuk mengenalkan mereka pada dunia usaha sejak dini.

Prestasi Akbar dan Menyiapkan Generasi Berikutnya.

Potensi siswa SLB Bumi Manggalo juga terlihat melalui prestasi di bidang keterampilan.

Guru Vokasional SLB Bumi Manggalo, Emdita Dasmi, S.Pd., M.M., mengatakan pembelajaran vokasional di sekolah salah satunya difokuskan pada pengembangan kriya kayu.

Menurutnya, kriya kayu tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas dan potensi siswa.

Salah seorang siswa, Akbar Dharmawan, bahkan telah menunjukkan kemampuan di tingkat Provinsi Riau.

“Untuk vokasional di sini kami sedikit terfokus kepada kriya kayu. Kriya kayu ini merupakan karya siswa yang sangat menghasilkan dan sudah berhasil diikuti oleh salah seorang siswa di tingkat provinsi, yaitu Akbar Dharmawan,” ujar Emdita.

Pada 2021, Akbar meraih juara III tingkat provinsi melalui produk lampu hias. Prestasi serupa kembali diraih pada 2022 dengan produk balance toy.

Guru Vokasional SLB Bumi Manggalo Emrita mendampingi Siswa mengukir kayu

Kemudian pada 2023, Akbar meraih juara II melalui produk alat masak. Pada 2024, ia kembali meraih juara II melalui produk alat tulis kantor.

“Jadi, dari tahun ke tahun prestasinya terus berkembang. Ini menunjukkan bahwa anak-anak kita memiliki potensi yang luar biasa apabila diberikan pembinaan dan kesempatan,” katanya.

Keberhasilan tersebut kini tidak ingin berhenti pada satu nama.

Sekolah telah membina tiga siswa lainnya yang dipersiapkan untuk mengikuti jejak dan melanjutkan keterampilan kriya kayu yang telah dikembangkan.

“Tiga siswa sedang kami bina untuk mengikuti jejak Akbar. Karena Akbar sekarang sudah kelas tiga dan akan tamat tahun ini, kami sudah menyiapkan generasi berikutnya untuk melanjutkan keterampilan kriya kayu ini,” jelasnya.

Ketiga siswa tersebut berasal dari jenjang SD dan SMP, yakni satu siswa kelas VI, satu siswa kelas VII dan satu siswa kelas VIII.
Menurut Emdita, pembinaan sejak usia sekolah menjadi bagian penting untuk mengembangkan kemampuan siswa.

Ia mengungkapkan, ketika pertama kali mengikuti kompetisi pada 2021, Akbar juga masih duduk di kelas VII SMP.

“Akbar dulu mengikuti kompetisi pertama pada 2021 ketika masih kelas satu SMP. Jadi, sejak awal kami memang melihat potensi yang dimilikinya dan terus memberikan pembinaan,” ungkapnya.

Hasil Kerajinan Siswa SLB Bumi Manggalo Siap di pasarkan

Pihak sekolah pun berharap keterampilan Akbar nantinya dapat kembali memberikan manfaat bagi siswa lainnya setelah menyelesaikan pendidikan.

“Karena Akbar sudah ahli dalam kriya kayu dan sudah membuktikan kemampuannya di tingkat provinsi, insyaallah setelah dia tamat tahun ini, mudah-mudahan dia bisa diangkat menjadi guru vokasional kriya kayu di sekolah,” pungkas Emdita.

Menatap Pasar yang Lebih Luas

Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar bagaimana membuat karya, tetapi bagaimana membuat karya tersebut memiliki ruang yang lebih luas di tengah masyarakat.

Saat ini, pemasaran karya siswa masih banyak dilakukan melalui pihak sekolah dan kegiatan pameran. PHR sendiri telah melibatkan SLB Bumi Manggalo dalam sejumlah kegiatan internal, termasuk festival dan pameran di lingkungan perusahaan.

Namun, langkah berikutnya adalah membuka akses yang lebih luas agar produk karya siswa dapat dikenal masyarakat, masuk ke hotel, toko maupun pasar lainnya.

Iwan mengatakan perluasan pasar menjadi salah satu fokus pengembangan program pada 2026. “Fokusnya mungkin di tahun 2026 ini kita coba jangkau ke pasar yang lebih luas. Produk-produk yang mereka miliki ini memiliki ciri khas khusus, ada uniqueness sendiri,” jelasnya.

Siswa SLB Bumi Manggalo

Harapan tersebut sejalan dengan keinginan sekolah agar karya siswa tidak hanya berhenti sebagai produk pameran.
“Untuk saat ini pemasarannya masih melalui pameran. Karya anak-anak kita ditampilkan di sana. Ke depan tentu kami berharap bisa masuk ke hotel, toko-toko atau pasar yang lebih luas,” ujar Iwan.

Dengan demikian, keterampilan yang dibangun tidak berhenti pada kemampuan membuat produk. Ada ekosistem yang ingin dibangun, mulai dari keterampilan, produksi, promosi hingga pemasaran.

Bagi PHR, program CID di SLB Bumi Manggalo tidak dirancang hanya sebagai bantuan sarana maupun pelatihan.
Target akhirnya adalah peningkatan kapasitas penerima manfaat agar program dapat berkembang dan berjalan secara berkelanjutan.

Pendampingan akan terus dievaluasi dari tahun ke tahun untuk melihat perkembangan program sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan penerima manfaat.

“Semoga dengan bantuan yang telah diberikan PHR, SLB Bumi Manggala dapat meningkatkan kapasitasnya, baik kapasitas anak-anak maupun program yang telah berjalan dari tahun 2025 sampai 2026 ini dapat berlanjut,” harap Iwan.

Foto Bersama Siwa, Guru SLB Bumi Manggalo Bersama Pewakilan PHR dan Awak Media

PHR juga nantinya akan melakukan kajian menuju exit program, dengan harapan program yang telah dibangun dapat tetap berjalan dan berkembang secara berkelanjutan.

Sementara terkait kemungkinan membuka peluang kerja bagi anak-anak berkebutuhan khusus di lingkungan industri PHR, pihak perusahaan menyebut pembahasan tersebut berada pada fungsi yang membidangi ketenagakerjaan.

“Fokus kami kepada pengembangan kapasitas masyarakat di SLB Bumi Manggala. Untuk peluang kerja di lingkungan industri PHR, ada fungsi yang lebih tepat untuk menyampaikan terkait hal tersebut,” ujarnya.

Bukan Sekadar Kayu

Pada akhirnya, perjalanan anak-anak SLB Bumi Manggalo bukan semata tentang kayu, kain atau clay.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sebuah produk.

Ada keberanian untuk mencoba, kesabaran untuk mengulang, kepercayaan diri untuk menunjukkan hasil, hingga harapan agar keterampilan tersebut suatu hari mampu menjadi bekal hidup.

Dari bahan sederhana seperti karton hingga kayu yang dibentuk menjadi berbagai produk, anak-anak SLB Bumi Manggalo menunjukkan satu hal: keterbatasan bukan berarti tanpa kemampuan.

Dengan pendampingan, pelatihan dan kesempatan yang tepat, potensi itu dapat tumbuh menjadi karya. Dan dari sebuah karya, terbuka jalan menuju kemandirian.**

Komentar