Toleransi Menyala: Lapas Bengkalis Bangun Harapan Lewat Pembinaan Rohani Tanpa Sekat

Lapas228 Dilihat

BENGKALIS,DURIPOS.COM – Di balik tembok kokoh dan pintu-pintu besi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bengkalis, harapan tidak pernah benar-benar terkunci. Di tempat yang kerap dipandang sebagai akhir dari sebuah kesalahan, justru tumbuh ruang-ruang pembinaan yang mengajarkan makna toleransi, pengampunan, dan kesempatan untuk memulai kehidupan yang lebih baik.

Lapas Kelas IIA Bengkalis terus membuktikan bahwa pemasyarakatan bukan sekadar menjalankan hukuman, tetapi membina manusia agar kembali menjadi pribadi yang lebih baik. Melalui program pembinaan kepribadian dan kerohanian yang berkelanjutan, seluruh warga binaan memperoleh hak yang sama untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sesuai agama dan keyakinannya.

Komitmen tersebut diwujudkan dengan menyediakan sarana ibadah yang lengkap dan representatif bagi seluruh warga binaan. Masjid Al-Ihsan menjadi pusat pembinaan bagi warga binaan Muslim. Bekerja sama dengan Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis, Lapas menyelenggarakan program pesantren yang membimbing warga binaan mempelajari ilmu agama, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, serta memperkuat akhlak melalui kajian keislaman yang rutin.

Bagi warga binaan beragama Kristen, Lapas menyediakan gedung gereja sebagai tempat beribadah sekaligus pembinaan rohani. Pelayanan tersebut didukung penuh oleh Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis melalui pendeta dan pelayan rohani yang secara berkala memberikan pembinaan, penguatan iman, dan pendampingan spiritual.

Sementara itu, warga binaan beragama Buddha maupun Konghucu juga memperoleh hak yang sama melalui keberadaan fasilitas klenteng. Tempat ibadah tersebut menjadi ruang untuk berdoa, merenungkan perjalanan hidup, dan menumbuhkan tekad menjadi pribadi yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat.

Kepala Lapas Kelas IIA Bengkalis, Priyo Tri Laksono, menegaskan bahwa pembinaan spiritual merupakan fondasi utama dalam proses pemasyarakatan dan reintegrasi sosial.

“Apabila pondasi spiritual telah terbentuk dengan kuat, kesadaran dan perilaku positif untuk kembali menjadi warga masyarakat yang baik akan tumbuh secara alami,” ujar Priyo, Jumat (10/7/2026).

Menurutnya, perubahan perilaku tidak cukup dibangun melalui penegakan aturan semata, tetapi harus disertai pembinaan hati, moral, dan nilai-nilai kehidupan. Karena itu, Lapas Bengkalis terus memperkuat sinergi dengan Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis agar seluruh warga binaan mendapatkan pelayanan keagamaan secara adil, layak, dan berkesinambungan.

Di Lapas Bengkalis, masjid, gereja, dan klenteng berdiri berdampingan sebagai simbol persaudaraan dalam keberagaman. Perbedaan keyakinan tidak menjadi sekat, melainkan menjadi kekuatan untuk saling menghormati dan bersama-sama menapaki jalan perubahan.

Dari ruang-ruang ibadah itulah lahir harapan baru. Sebab di balik jeruji besi, setiap doa yang dipanjatkan adalah ikhtiar untuk memperbaiki diri, memulihkan kehidupan, dan kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih bermartabat.**

Komentar