Menenun Jejak Melayu & Legenda Putri Tujuh, Batik Dumai Jadi Ikon Kebanggaan Daerah

PHR93 Dilihat

DUMAI,DURIPOS.COM – Ada perasaan getir yang sempat mengendap di benak warga Kota Dumai. Sebagai wilayah yang berdiri di atas tanah kaya peradaban Melayu serta kental dengan ingatan kolektif legenda Putri Tujuh, Dumai sempat menghadapi tantangan tersendiri. Kota bersejarah di pesisir Provinsi Riau ini sebelumnya belum memiliki wastra khas yang menjadi identitas budaya daerah.

Perasaan cemas itu memuncak saat Hj. Leni Rahmaini, SKM, menghadiri sebuah pertemuan lintas wilayah di Pekanbaru beberapa tahun silam. Riuh perwakilan kabupaten dan kota lain di Riau dengan penuh percaya diri memamerkan keindahan corak batik khas masing – masing daerah, Dumai hanya menjadi penonton. Ada rasa minder, canggung, sekaligus dorongan kuat dalam dada untuk mengubah keadaan. Kenapa Dumai yang kaya akan legenda tak mampu memiliki identitas wastranya sendiri?

Ogah membiarkan rasa gundah itu berlarut, Leni yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK Kota Dumai mengambil inisiatif berani. Dengan tekad dan kepedulian mendalam untuk mengangkat martabat daerah, beliau mulai menggalang potensi masyarakat setempat. Di sebuah sudut Jalan Putri Tujuh, Kelurahan Teluk Binjai, Kecamatan Dumai Timur, benih perubahan itu ditanam pada tahun 2024. Melalui wadah Galeri Batik Dumai, sebanyak 15 warga lokal yang didominasi para ibu rumah tangga dirangkul untuk memulai langkah pertama.

Langkah ini bukanlah perkara mudah. Sebagian besar warga yang bergabung awalnya tak pernah memegang canting, apalagi memahami seluk-beluk pelorotan lilin dan penguncian warna pada kain. Namun, modal utama mereka adalah semangat untuk belajar dan tekad membuktikan bahwa Dumai mampu melahirkan karya seni bernilai tinggi.

“Saat melihat daerah lain bangga memamerkan batik mereka, ada dorongan kuat di hati saya bahwa Dumai tidak boleh tinggal diam. Kita punya sejarah dan legenda Putri Tujuh yang begitu indah. Saya percaya, jika ibu-ibu di sini diberi kesempatan dan pelatihan yang tepat, jemari mereka pasti mampu menari di atas kain untuk melahirkan karya hebat yang mengangkat martabat,” kenangnya.

Para warga yang menjuluki diri mereka sebagai batikers ini mulai menempa diri secara konsisten. Mereka membenamkan diri dalam alur kerja yang membutuhkan ketelitian tinggi, kesabaran ekstra, serta ketahanan fisik. Setiap helai kain yang digarap melalui perjalanan panjang, mulai dari pemilihan bahan baku berkualitas, pembuatan pola, pencetakan motif tulis maupun cap, peracikan warna, penguncian warna agar tidak luntur, hingga tahap pelorotan, perendaman, penjemuran, dan pengemasan.

Inspirasi terbesar mereka berakar dari akar sejarah lokal. Khasanah cerita rakyat legenda Putri Tujuh dan kekayaan alam Melayu pesisir ditransformasikan ke dalam goresan motif yang eksklusif. Hingga saat ini, lebih dari 10 motif batik khas telah berhasil diciptakan dan dipatenkan sebagai kebanggaan Kota Dumai.

Hasil perjuangan tak pernah mengkhianati usaha keras warga. Jika dahulu Kota Dumai tak memiliki identitas batik sama sekali, kini dari ruang workshop Galeri Batik Dumai lahir sekitar 100 lembar kain batik berkualitas prima setiap bulannya. Rasa percaya diri para perajin yang mulanya ragu-ragu, kini bertransformasi menjadi kebanggaan yang meluap-luap.

Dampak dari gerakan kebudayaan ini terus meluas bagaikan gelombang di laut pesisir. Pasar Batik Dumai yang semula hanya menyasar warga lokal kini telah merambah luas ke kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN), instansi BUMN/BUMD, lembaga pemerintah, hingga komunitas seni.

Keajaiban tidak berhenti di situ. Dengan ketekunan menjaga estetika serta kualitas pewarnaan, keindahan karya tangan para batikers Dumai menembus batas-batas negara. Kain buatan tangan warga Teluk Binjai ini telah melenggang di ajang peragaan busana bergengsi dunia, di antaranya Fashion Fest International Awards 2025 serta Bangkok Kids International Fashion Week 2025 di Thailand.

Melihat antusiasme pasar yang kian melonjak, para perajin tidak cepat berpuas diri. Kreativitas terus dikembangkan melalui diversifikasi produk. Batik Dumai tak lagi hanya dipasarkan dalam bentuk lembaran kain, melainkan diolah menjadi busana siap pakai (ready-to-wear), tote bag, alas meja, hingga suvenir unik yang bernilai ekonomi tinggi. Diversifikasi ini terbukti membuka peluang pasar yang jauh lebih luas sekaligus meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga para perajin.

Keberhasilan perajin lokal Dumai untuk bangkit dan mandiri ini tak lepas dari proses belajar yang berkelanjutan. Pada rentang tanggal 8 hingga 12 September 2026, para perajin kembali mengikuti pelatihan bertajuk “Membatik Lanjutan”. Dalam program ini, para batikers mendapatkan pendalaman materi intensif mengenai teknik pewarnaan lanjutan serta eksplorasi teknik variasi tambahan guna memperkaya kualitas visual produk.

“Batik Dumai di usia remaja ini saya rasa hal yang tidak bisa dilepaskan dari orang tuanya yaitu PT Pertamina Hulu Rokan. Harapannya kegiatan hari ini bukan menjadi langkah akhir, tapi merupakan langkah awal bagaimana nanti Batik Dumai kedepannya bisa lebih berkembang lagi,” ungkap Leni Rahmaini.

Pelatihan lanjutan yang menghadirkan instruktur profesional dari Yogyakarta ini merupakan bagian dari alur pendampingan berkesinambungan yang disokong penuh oleh program Community Involvement and Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Sejak dimulainya pembentukan galeri pada 2024, dilanjutkan dengan penguatan sarana dan prasarana produksi pada 2025, hingga pelatihan teknik lanjutan di tahun 2026, kemitraan strategis ini memosisikan PHR sebagai sahabat pendukung yang hadir memperkuat kapasitas dan kemandirian warga dari belakang layar.

Sinergi antara kegigihan warga, dorongan Pemerintah Kota Dumai, dan dukungan berkelanjutan dari PHR bahwa komitmen terhadap pelestarian budaya lokal mampu menggerakkan roda ekonomi kerakyatan secara nyata.

TENTANG PHR ZONA ROKAN

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018.

Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan WK Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041.

Daerah operasi WK Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). WK Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.**

 

Komentar