Dari Kolam ke Kemandirian, Rizky Ubah Lele Sei Manasib Jadi Sumber Harapan dan Omzet Puluhan Juta

PHR229 Dilihat

ROKAN HILIR,DURIPOS.COM – Di sudut pesisir Sei Manasib, Kabupaten Rokan Hilir, riak air kolam lele pernah menjadi saksi kegelisahan panjang para pembudidaya ikan. Masa panen yang seharusnya membawa kegembiraan justru kerap menghadirkan kecemasan akibat tingginya biaya produksi dan harga jual ikan yang tidak menentu.

Kondisi itu dialami langsung oleh Muhammad Rizky (31), Sekretaris BUMDes sekaligus penggerak Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Lele Sei Manasib. Di tengah tekanan harga pakan yang terus naik dan permainan harga oleh tengkulak, usaha budidaya lele yang mereka jalankan sempat terasa seperti perjuangan tanpa ujung.

“Antara biaya operasional yang terus membengkak dan margin keuntungan yang makin tipis, kami sempat berada di titik lelah. Bukan hanya lelah secara fisik karena merawat ikan setiap hari, tetapi juga lelah secara mental karena merasa kerja keras kami belum memberikan hasil yang pasti,” ungkap Rizky, Rabu (20/5/2026).

Namun, di balik keterbatasan itu, Rizky memilih untuk tidak menyerah. Ia percaya kelompok budidaya di Sei Manasib harus keluar dari ketergantungan dan mulai membangun sistem usaha yang lebih mandiri.

Harapan itu mulai tumbuh ketika Pokdakan Lele Sei Manasib mendapat pendampingan melalui Program Perikanan Riau yang dijalankan pertamina.com⁠�. Program tersebut tidak hanya menghadirkan bantuan fasilitas, tetapi juga membuka ruang pembelajaran dan penguatan kapasitas bagi para pembudidaya.

Bersama rekan-rekannya, Rizky kemudian melakukan studi belajar ke Desa Bangko Jaya untuk mempelajari sistem produksi pakan mandiri dari kelompok binaan yang telah lebih dulu berhasil. Dari perjalanan itu, muncul gagasan memanfaatkan ikan rucah hasil tangkapan sampingan yang sebelumnya kerap dianggap limbah pesisir menjadi bahan baku pakan alternatif.

Perjalanan menuju keberhasilan ternyata tidak berjalan mulus. Pada tahap awal, produksi pakan mandiri justru mengalami kegagalan. Pelet yang dicetak hancur menjadi serbuk ketika ditebar ke kolam dan berdampak pada kualitas air.

“Mesin vertikal itu membutuhkan tingkat presisi yang tinggi. Saya sempat salah dalam metode pengaturan putaran pisau sehingga pelet tidak bisa memadat dengan sempurna,” kenang Rizky.

Kegagalan demi kegagalan tidak membuatnya berhenti. Rizky terus melakukan percobaan, mulai dari mengatur kadar kelembaban adonan hingga mengkalibrasi mesin secara berulang.

Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil ketika mesin berhasil menghasilkan pelet padat dengan kualitas nutrisi yang baik.
Keberhasilan memproduksi pakan mandiri menjadi titik balik bagi kelompok budidaya lele Sei Manasib. Beban biaya operasional yang sebelumnya menghimpit perlahan dapat ditekan, sementara produktivitas budidaya terus meningkat.

Tak berhenti di sektor produksi, Rizky juga mulai membangun strategi pemasaran yang lebih luas. Pengetahuan tata niaga yang dipelajarinya kemudian digunakan untuk membuka jalur distribusi langsung ke Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Program Gizi) guna mendukung program Makan Bergizi Gratis.

Hasilnya mulai terlihat nyata. Dalam satu siklus produksi, kelompok tersebut mampu menghasilkan sekitar 2,3 ton lele. Sebanyak 519 kilogram di antaranya terserap langsung untuk kebutuhan penyediaan pangan bergizi. Dalam tiga bulan terakhir, omzet kelompok bahkan mencapai Rp32 juta.

Perubahan itu tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi, tetapi juga membangun kembali rasa percaya diri para pembudidaya di Sei Manasib. Mereka kini berdiri sebagai kelompok usaha masyarakat yang produktif dan mandiri, sekaligus ikut menopang ketahanan pangan lokal.

Manager CID Regional 1 PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan keberhasilan Pokdakan Lele Sei Manasib menjadi bukti bahwa program pemberdayaan masyarakat mampu menciptakan dampak ekonomi nyata jika dijalankan secara konsisten dan berbasis potensi lokal.

“PHR berkomitmen untuk terus menghadirkan program pemberdayaan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun penguatan kapasitas kelompok usaha lokal. Kami percaya, kemandirian masyarakat menjadi fondasi penting dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dukungan masyarakat terhadap operasional industri hulu migas juga memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional.

“Dukungan tersebut sangat penting dalam menjaga keberlanjutan operasi dan ketahanan energi nasional, di mana PHR menjadi salah satu penopang utama produksi migas Indonesia,” tambahnya.

Kini, bagi Rizky, kolam lele bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah. Di balik air kolam yang tenang, tumbuh keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjuangan.

“Air di kolam boleh saja menyusut saat kemarau panjang, tetapi tekad kami untuk mandiri tidak akan pernah ikut mengering. Dari keterbatasan, kami belajar bahwa selalu ada jalan bagi orang-orang yang mau terus berusaha dan tidak menyerah,” pungkasnya.**

Komentar