Optimalisasi Pelayanan Pasien BPJS di Klinik Pratama Melalui Pendekatan Resource-Based Theory dan Balance Theory

Bengkalis778 Dilihat

Duri,DuriPos.com — Belman Junaidi, mahasiswa Program Studi Magister Manajemen pada Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak), mengangkat isu krusial terkait tantangan pelayanan pasien BPJS di Klinik Pratama. Dalam tugas akademiknya yang dibimbing oleh Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M. dan Dr. Imran Al Ucok Nasution, S.T., M.M., Belman menyoroti pentingnya penguatan manajemen organisasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) sebagai garda terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan nasional. Klinik Pratama memiliki peran vital dalam memberikan pemeriksaan awal, pengobatan dasar, dan rujukan, sehingga kualitas pelayanannya sangat menentukan kepuasan dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem BPJS Kesehatan.

Melalui observasi langsung, Belman menemukan sejumlah permasalahan yang menghambat pelayanan optimal, antara lain keterbatasan tenaga medis profesional, infrastruktur yang belum memadai, proses administrasi dan klaim BPJS yang masih manual dan kompleks, serta rendahnya kemampuan komunikasi SDM dalam menghadapi pasien. Selain itu, kurangnya edukasi kepada masyarakat mengenai prosedur dan hak-hak mereka dalam menggunakan layanan BPJS turut memperburuk persepsi publik terhadap layanan klinik. Permasalahan ini tidak hanya berdampak pada efisiensi operasional, tetapi juga pada citra dan keberlanjutan klinik sebagai penyedia layanan kesehatan primer.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Belman mengusulkan pendekatan berbasis dua teori manajemen yang relevan. Pertama, Resource-Based Theory (Barney, 1991), yang menekankan bahwa keunggulan kompetitif organisasi terletak pada pengelolaan sumber daya internal yang unik dan sulit ditiru, seperti kompetensi tenaga medis dan sistem informasi pelayanan. Kedua, Balance Theory dari Heider (1958), yang menjelaskan pentingnya keseimbangan dalam hubungan interpersonal, termasuk antara tenaga kesehatan dan pasien, untuk menciptakan komunikasi yang harmonis dan pelayanan yang empatik. Dengan menggabungkan kedua teori ini, Belman menawarkan solusi strategis berupa pelatihan soft skill bagi tenaga medis, digitalisasi sistem administrasi, serta program edukasi masyarakat yang berkelanjutan.

Pendapat profesional Belman Junaidi ini mendapatkan tanggapan dari Dr. Chandra Bagus A.P., S.T., M.M., seorang praktisi manajemen dan alumni Universitas Negeri Malang. Menurutnya, Resource-Based Theory termasuk dalam kategori Grand Theory karena memiliki cakupan luas dan menjadi fondasi dalam pengembangan strategi organisasi lintas sektor, termasuk sektor kesehatan. Sementara itu, Balance Theory dikategorikan sebagai Middle-Range Theory karena fokusnya yang lebih spesifik pada dinamika hubungan interpersonal. Dr. Chandra menambahkan bahwa kedua teori ini telah banyak diterapkan di sektor swasta, khususnya dalam industri layanan dan rumah sakit swasta, untuk meningkatkan kualitas interaksi dan efisiensi operasional.

Sebagai penguatan solusi, Dr. Chandra mengusulkan penerapan Sistem Rotasi Fungsional dan Shadowing, di mana tenaga medis junior dapat belajar langsung dari senior melalui rotasi peran dan pendampingan harian. Pendekatan ini tidak hanya mempercepat transfer pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membangun empati lintas fungsi serta memperkuat budaya kerja kolaboratif. Dalam konteks klinik dengan keterbatasan SDM, strategi ini dinilai sangat efektif untuk menjaga kesinambungan pelayanan dan meningkatkan kualitas interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien.(*)

Komentar