RW 22 Air Jamban Kini Resmi Menjadi RW 09 Bagian Desa Pematang Obo

Dari Jarak yang Jauh Menuju Pelayanan Lebih Dekat

Bengkalis150 Dilihat

DURI,DURIPOS.COM – Hujan yang turun sangat deras Rabu Siang (29/4/2026), seolah ikut menjadi saksi sebuah perubahan penting bagi masyarakat Tonggak 8. Di tengah suasana yang hangat dan penuh haru, warga RW 22 Kelurahan Air Jamban resmi melepas status lamanya dan bergabung menjadi RW 09 Desa Pematang Obo, Kecamatan Bathin Solapan.

Bukan sekadar perpindahan administrasi, momen ini menjadi babak baru bagi masyarakat yang selama ini harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk mengurus kebutuhan pemerintahan.

Acara serah terima wilayah tersebut dihadiri langsung oleh Camat Mandau Riki Rihardi, Camat Bathin Solapan M. Rusydy, Lurah Air Jamban Rifky Elyaningsih, Pj Kepala Desa Pematang Obo Harzukifli, jajaran pemerintah kecamatan, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Ketua RW, Ketua RT, tokoh masyarakat, hingga warga setempat.

Di hadapan masyarakat, Lurah Air Jamban Rifky Elyaningsih menyampaikan rasa terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada seluruh warga yang selama ini telah menjadi bagian dari Kelurahan Air Jamban. Baginya, melepas RW 22 bukan perkara mudah. Ada ikatan emosional yang telah terbangun sejak lama.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kebersamaan selama ini. Dari tahun 2023 hingga hari ini, tentu banyak interaksi yang sudah kita jalani bersama. Jika ada salah sikap atau kekurangan dalam pelayanan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ujarnya.

Seluruh urusan administrasi kependudukan pun kini resmi diserahkan kepada Pemerintah Desa Pematang Obo, demi memudahkan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan yang lebih cepat dan efisien.

Pj Kepala Desa Pematang Obo Harzukifli menyambut kedatangan warga baru itu dengan tangan terbuka. Ia menegaskan, masyarakat RW 22 bukanlah orang asing, melainkan keluarga baru yang akan bersama-sama membangun desa.

“Selamat datang di Desa Pematang Obo. Mari kita bersama-sama memajukan desa ini. Sesuai semangat kita, ‘Setiap Hari Maju’, kemajuan hanya bisa tercapai jika kita berjalan bersama,” katanya.

Menurut Harzukifli, pelayanan kepada masyarakat menjadi prioritas utama. Ia juga meminta warga tak segan menyampaikan keluhan, masukan, maupun kritik demi terciptanya pemerintahan desa yang lebih baik.

Sementara itu, Camat Bathin Solapan M. Rusydy mengungkapkan bahwa proses perpindahan wilayah ini sebenarnya telah dimulai sejak setahun lalu. Saat itu, persoalan utama yang dihadapi warga adalah jauhnya akses pelayanan pemerintahan.

Warga Tonggak 8 harus menempuh jarak sekitar delapan kilometer hanya untuk mengurus administrasi sederhana. “Dari situlah kami berpikir, bagaimana caranya agar masyarakat tidak lagi kesulitan. Pemerintah hadir untuk memudahkan, bukan mempersulit,” ujarnya.

Ia menyebut, seluruh proses telah melalui aturan dan regulasi yang berlaku. Perpindahan ini juga diyakini akan berdampak positif terhadap peningkatan pelayanan publik dan pembangunan desa.

Tak hanya itu, bertambahnya jumlah penduduk dan luas wilayah Desa Pematang Obo juga akan berdampak pada peningkatan alokasi anggaran desa, yang pada akhirnya kembali untuk kepentingan masyarakat.

Namun, momen paling emosional datang dari Camat Mandau Riki Rihardi. Dengan nada jujur dan terbuka, ia mengakui bahwa secara pribadi dirinya bersama Lurah Air Jamban merasa berat melepas RW 22.

“Kalau bicara hati, tentu berat. Ada rasa kehilangan karena selama ini kita sudah bersama. Tapi sebagai pemimpin, kita tidak boleh memikirkan kepentingan pribadi. Yang harus diutamakan adalah kepentingan rakyat,” tegasnya.

Menurut Riki, keputusan ini adalah bentuk keberanian untuk memilih yang terbaik bagi masyarakat, bukan sekadar mempertahankan wilayah administratif.
Jika pelayanan lebih dekat, akses lebih mudah, dan masyarakat lebih nyaman, maka itulah keputusan yang benar.

Ia pun menitipkan warga RW 22 kepada Pemerintah Desa Pematang Obo agar diterima dengan baik, tanpa sekat, tanpa perbedaan. “Mereka bukan orang lain. Mereka saudara kita juga. Jangan dianggap anak tiri. Tolong terima mereka dengan lapang hati,” pesannya.

Hujan turun bukan sebagai penghalang, melainkan seperti doa yang mengiringi langkah baru masyarakat RW 09 Desa Pematang Obo. Wilayah boleh berganti, administrasi boleh berubah, tetapi harapan tetap sama, pelayanan yang lebih dekat, kehidupan yang lebih baik, dan masa depan yang lebih sejahtera bagi seluruh masyarakat.**

Komentar