JAKARTA, DURIPOS.COM – Di tengah kuatnya stigma dan keterbatasan akses yang masih membayangi penyandang disabilitas di Indonesia, secercah harapan hadir lewat program pemberdayaan yang dirancang lebih dari sekadar bantuan. PT Patra Drilling Contractor (PDC) mengambil langkah nyata dengan menghadirkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) yang berfokus pada inklusivitas dan kemandirian.
Program ini dijalankan secara berkelanjutan sejak beberapa tahun terakhir, khususnya di wilayah operasional perusahaan seperti Riau dan Jakarta. Melalui pendekatan berbasis kebutuhan, PDC tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membuka jalan bagi penyandang disabilitas untuk memiliki keterampilan dan peluang kerja yang layak.
Corporate Secretary PDC, Ani Aryani, menegaskan bahwa program tersebut dirancang berdasarkan kajian sosial yang matang. “Bukan sekadar donasi, setelah melalui social mapping, kami melihat bahwa program yang tepat adalah yang mampu menciptakan inklusi sosial, kemandirian ekonomi, dan keberlanjutan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Menurut Ani, penyandang disabilitas memiliki potensi besar untuk berkontribusi di masyarakat. Namun, keterbatasan akses dan kesempatan kerap menjadi penghambat dalam mengembangkan diri.
Sejak 2023, PDC memulai program dengan pelatihan serta fasilitasi pembuatan SIM D bagi penyandang disabilitas di sekitar wilayah kerja. Langkah ini diambil seiring terbukanya peluang kerja sebagai pengemudi transportasi berbasis aplikasi bagi kalangan difabel tertentu.
Program kemudian berkembang pada 2024 dengan pelatihan tata boga khusus disabilitas di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, yang diikuti 20 peserta dari berbagai kategori disabilitas. Pelatihan serupa juga digelar di Jakarta Timur dengan melibatkan sembilan peserta dan berlangsung selama 10 hari di Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD).
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya dibekali teori, tetapi juga praktik langsung mulai dari pengolahan makanan, kebersihan dapur, teknik memasak dasar, pembuatan roti, hingga kewirausahaan. Pendekatan ini dirancang agar peserta mampu mandiri dan bahkan membuka usaha sendiri.
Memasuki tahun ketiga, program ini telah menjangkau 51 penyandang disabilitas dan menunjukkan dampak nyata. Salah satu kisah sukses datang dari Muhammad Haekal Senchaki (20), peserta pelatihan tahun 2025. Mahasiswa berkebutuhan khusus jurusan Desain Komunikasi Visual ini kini berhasil merintis usaha kuliner “Chaki Pizza”.
Dengan sistem pre-order, Haekal mampu memproduksi dan memasarkan produknya secara mandiri—sebuah capaian yang menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.
Keberhasilan tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana program pelatihan berbasis keterampilan dapat membuka peluang ekonomi baru bagi penyandang disabilitas.
Ke depan, PDC berharap program CSR ini terus berkembang dan mampu menghapus stigma yang selama ini melekat, sekaligus menciptakan ruang yang setara bagi penyandang disabilitas di dunia kerja maupun kehidupan sosial.**

















Komentar