Di Balik Tembok Lapas Bengkalis 200 Anak Ayam Menetas, Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Lapas52 Dilihat

BENGKALIS,DURIPOS.COM– Suara riuh anak ayam memecah keheningan area asimilasi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bengkalis, Sabtu (21/2). Dari balik mesin inkubator sederhana berbasis teknologi tepat guna, sebanyak 200 ekor anak ayam berhasil menetas dalam satu siklus pembinaan kemandirian peternakan.

Keberhasilan ini menjadi langkah konkret Lapas Bengkalis dalam mendukung program Asta Cita Presiden RI terkait penguatan ketahanan pangan nasional. Tak sekadar aktivitas rutin, penetasan telur ayam tersebut melibatkan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang telah dibekali keterampilan teknis di bidang peternakan.

Kepala Lapas Kelas IIA Bengkalis, Priyo Tri Laksono, menegaskan program ini merupakan bagian dari transformasi pemasyarakatan yang kini berorientasi produktif dan kontributif.

“Program penetasan telur mandiri ini adalah bukti nyata ketahanan pangan di tingkat institusi. Kami tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga memastikan Lapas Bengkalis turut memproduksi sumber pangan sendiri sesuai arahan Bapak Presiden dalam Asta Cita,” ujarnya.

Program ini dilaksanakan sebagai implementasi dari 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Melalui bimbingan kemandirian peternakan, para WBP tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung mulai dari proses seleksi telur, pengaturan suhu inkubator, hingga perawatan anak ayam pascamenetas.

Secara teknis, setiap siklus penetasan mampu menghasilkan sedikitnya 200 ekor anak ayam. Hasil tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan kandang internal, sekaligus membuka peluang distribusi ke pasar lokal maupun mitra binaan di wilayah Kabupaten Bengkalis.

Lebih jauh, program ini dirancang sebagai bekal hard skill bagi warga binaan sebelum kembali ke masyarakat. Dengan pendampingan teknis berkelanjutan, Lapas Bengkalis berharap para WBP memiliki kompetensi agribisnis yang aplikatif dan bernilai ekonomi.

Keberhasilan penetasan ini menjadi gambaran bahwa di balik tembok hunian, tumbuh produktivitas yang berdampak nyata. Tak hanya memperkuat ketahanan pangan internal, tetapi juga menegaskan peran pemasyarakatan sebagai ruang pembinaan yang membangun kemandirian dan harapan baru bagi masa depan warga binaan.**

Komentar