Di Balik Canting dan Kain, Liza Menenun Harapan Anak Berkebutuhan Khusus

PHR125 Dilihat

DURI,DURIPOS.COM – Setiap kali jam praktik dimulai di ruang kelas Sekolah Luar Biasa (SLB) Aisyiyah wilayah Mandau dan Pinggir, Liza kerap disambut pemandangan yang sama. Beberapa siswa duduk diam dengan tatapan menunduk, sebagian lainnya memegang alat praktik tanpa benar-benar memahami apa yang harus dilakukan.

Bukan karena mereka tak ingin belajar, melainkan karena metode pembelajaran yang selama ini diterapkan belum sepenuhnya memberi ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengeksplorasi kemampuan diri mereka.

Sebagai pendidik yang setiap hari mendampingi siswa berkebutuhan khusus, kegelisahan itu terus tumbuh dalam diri Liza. Ia melihat proses belajar yang masih didominasi metode konvensional membuat siswa cenderung pasif, sulit mengekspresikan diri, dan belum mampu menunjukkan potensi terbaiknya.

“Kadang saya bertanya pada diri sendiri, apakah cara mengajar yang selama ini kami lakukan benar-benar sudah sesuai dengan kebutuhan mereka,” ungkap Liza, Jumat (24/4/2026).

Pertanyaan itu menjadi titik awal perubahan. Kekhawatiran melihat potensi besar para siswa yang belum tergali mendorongnya mencari pendekatan pembelajaran yang lebih bermakna.

Harapan itu datang saat Liza bergabung dalam Program Peningkatan Kualitas Pendidikan Inklusif Berbasis Vokasional yang diinisiasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Baginya, program tersebut bukan sekadar pelatihan, melainkan jalan baru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup, relevan, dan membangun kemandirian siswa.

Melalui program itu, Liza diperkenalkan pada pembelajaran vokasional membatik sebagai media pengembangan keterampilan anak berkebutuhan khusus. Ia mendapatkan pelatihan, pendampingan, serta dukungan alat dan bahan untuk mengimplementasikan metode belajar berbasis praktik.

“Saya mendapatkan ilmu baru yang tidak hanya menambah wawasan, tapi juga membuka cara pandang saya dalam mengajar,” tuturnya.

Berbekal pelatihan tersebut, Liza mulai menerapkan pembelajaran membatik secara bertahap dan adaptif. Mulai dari mengenalkan motif sederhana, cara memegang canting, hingga proses pewarnaan kain, semua dilakukan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.

Proses itu tidak selalu mudah. Pada tahap awal, Liza harus mendampingi secara intens, mengulang instruksi berkali-kali, hingga menenangkan rasa takut siswa saat pertama kali mencoba.

Namun perlahan, perubahan mulai terlihat

Siswa yang sebelumnya hanya mengamati dari kejauhan mulai berani ikut terlibat. Dari sekadar memegang canting, mereka mulai mencoba membuat garis sederhana di atas kain, hingga akhirnya mampu menyelesaikan karya batik sederhana dengan tangan mereka sendiri.

“Dari sekadar memegang canting hingga mampu menyelesaikan karya sederhana, setiap proses menjadi pencapaian yang berarti,” ujarnya dengan senyum bangga.

Transformasi itu tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada diri Liza sendiri. Dari seorang pengajar, ia berproses menjadi fasilitator yang lebih adaptif, kreatif, dan empatik.

Ia belajar memahami karakter setiap siswa, menyesuaikan ritme pembelajaran, serta membangun pendekatan yang lebih personal agar setiap anak merasa dihargai dan mampu berkembang sesuai potensinya.

Kegiatan membatik pun menghadirkan suasana belajar yang lebih interaktif dan kolaboratif. Di ruang kelas, siswa tidak lagi sekadar menerima materi, tetapi memiliki ruang untuk mencoba, bereksplorasi, dan mengekspresikan diri dengan cara mereka sendiri.

Bagi Liza, keberhasilan terbesar bukanlah hasil batik yang indah, melainkan tumbuhnya rasa percaya diri pada diri anak-anak itu.

“Yang paling mengharukan bagi saya bukan hasil batiknya. Tapi saat mereka mulai percaya bahwa mereka juga bisa. Perubahan itu memang pelan, tapi sangat berarti,” ucapnya lirih.

Program vokasional membatik yang dijalankan PT Pertamina Hulu Rokan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan inklusif sekaligus penguatan peran perempuan dalam pendidikan bagi sahabat istimewa.

Lebih dari sekadar keterampilan, program tersebut membuka ruang harapan baru bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengenali potensi diri, membangun kemandirian, dan menatap masa depan dengan lebih percaya diri.

Sejalan dengan semangat Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April, kisah Liza menjadi potret nyata tentang keberanian seorang perempuan membuka jalan, sekecil apa pun, demi masa depan yang lebih setara, mandiri, dan bermakna bagi generasi yang kerap terpinggirkan.**

Komentar