MANDAU,DURIPOS.COM – Malam itu, langit Kelurahan Talang Mandi terasa berbeda. Gema takbir berkumandang, bersahut-sahutan dari sudut-sudut Jalan Wonosobo, Jumat (20/3/2026). Di tengah keterbatasan, warga tetap menemukan cara sederhana namun penuh makna untuk menyambut datangnya 1 Syawal 1447 Hijriah.
Tanpa pawai besar seperti tahun-tahun sebelumnya, kebersamaan justru terasa lebih dekat. Warga dari lima RW, RW02, RW03, RW10, RW11, dan RW12 berbaur bersama, berjalan dan melantunkan takbir dengan khidmat. Empat masjid, yakni Masjid Istiqlal, Masjid Istiqomah, Masjid Nur Hikmah, dan Masjid Ar-Rahmah, menjadi titik-titik cahaya yang menyatukan langkah dan doa.
Takbir yang menggema bukan sekadar seruan kemenangan, tetapi juga menjadi bahasa hati-tentang syukur, tentang rindu yang tertunaikan, dan tentang harapan yang kembali disulam di penghujung Ramadan.

Di tengah kerumunan itu, Lurah Talang Mandi, Ridho Yudha Pratama, memperkenalkan diri sebagai pemimpin yang baru. Namun lebih dari sekadar perkenalan, ia membuka ruang untuk mendengar, mengundang saran, harapan, dan kebersamaan dari masyarakat yang kini ia pimpin.
Sementara itu, Camat Mandau Riki Rihardi mengajak warga memaknai momen ini lebih dalam. Ia menyadari, kondisi efisiensi membuat tradisi pawai takbir tak lagi digelar. Namun, justru dari kesederhanaan inilah, nilai kebersamaan itu terasa semakin nyata.
“Di tengah kondisi efisiensi saat ini, kita masih bisa bersama-sama berkumpul menyambut Idulfitri dengan penuh suka cita,” ujarnya.

Lebih dari itu, ia juga menyampaikan permohonan maaf, sebuah tradisi yang tak lekang oleh waktu, namun selalu terasa hangat di hati.
“Secara pribadi maupun sebagai Pemerintah Kecamatan Mandau, kami memohon maaf apabila dalam ucapan, pergaulan, maupun kegiatan yang telah dilaksanakan terdapat khilaf,” tuturnya tulus.
Malam itu, tak ada kemewahan. Tak ada gemerlap kendaraan hias. Namun, Talang Mandi membuktikan bahwa Idulfitri tak selalu tentang kemeriahan. Ia tentang kebersamaan yang dijaga, tentang hati yang saling mendekat, dan tentang gema takbir yang menyatukan langkah dalam keikhlasan.
Di bawah langit Mandau, takbir terus berkumandang menjadi saksi bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kebersamaan yang sederhana, namun penuh makna.**











Komentar