Meramu Surfaktan, Merawat Asa Lapangan Tua Rokan

Dari laboratorium sunyi hingga peresmian di jantung Lapangan Minas, ikhtiar panjang para perwira Pertamina membuktikan bahwa inovasi dan ketekunan mampu memperpanjang napas energi negeri

PHR343 Dilihat

Jakarta,DuriPos.com — Di balik peta besar ketahanan energi nasional, Wilayah Kerja (WK) Rokan menempati posisi istimewa. Lapangan Minas, yang mulai berproduksi sejak 1952, telah menjadi saksi perjalanan panjang industri migas Indonesia. Dengan cadangan minyak awal diperkirakan mencapai 8,7 miliar barel, lapangan raksasa ini tak sekadar menghasilkan minyak, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi bangsa selama lebih dari tujuh dekade.

Namun waktu tak bisa ditawar. Sebagai lapangan mature, Minas menghadapi tantangan alamiah berupa penurunan produksi. Untuk menjawabnya, inovasi demi inovasi diterapkan. Mulai dari injeksi air peripheral sejak masa awal pengembangan, dilanjutkan metode waterflood pada 1995, hingga berbagai teknologi perolehan minyak lanjut (tertiary recovery).

Salah satu terobosan penting adalah penerapan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR)—teknologi injeksi bahan kimia yang dirancang untuk “membujuk” sisa minyak agar kembali mengalir ke permukaan. Teknologi ini bukan hal baru, namun di tangan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), CEOR dikembangkan lebih jauh dengan satu tujuan besar: mandiri dan sesuai karakter reservoir Rokan.

Sejak alih kelola WK Rokan pada Agustus 2021, PHR mengerahkan sinergi lintas fungsi—dari tim lapangan, Technology Innovation and Implementation (TI&I) Pertamina (Persero), hingga anak usaha terkait—untuk menemukan formulasi surfaktan yang tepat dan dapat diproduksi di dalam negeri. Upaya ini bukan sekadar teknis, melainkan strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Perjalanan menuju formulasi ideal tidak singkat. Hampir dua tahun, ratusan sampel bahan kimia diuji di laboratorium. Setiap tetes cairan diuji kesesuaiannya dengan karakter reservoir Rokan—salinitas, temperatur, hingga stabilitas kimia.

Uji coba lapangan pertama dilakukan pada Juli 2025 melalui Proyek Surfactant Extended Stimulation (SES) di Lapangan Balam South, Kabupaten Rokan Hilir. Hasilnya menjadi pijakan penting hingga akhirnya, Selasa, 23 Desember 2025, CEOR resmi diluncurkan di Lapangan Minas Area A, Zona Rokan.

Peresmian yang berlangsung di Rumbai itu menandai babak baru pengelolaan lapangan tua dengan teknologi anak bangsa.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menegaskan, Lapangan Minas merupakan aset strategis dalam sejarah industri hulu migas Indonesia.

“Minas adalah lapangan yang sudah mature. Keberlanjutan produksinya hanya dapat dijaga melalui inovasi dan penerapan teknologi yang tepat. Karena itu, kita bersyukur dapat meresmikan penerapan Chemical EOR Tahap I di Area A Lapangan Minas,” ujarnya.

Senada, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menyebut keberhasilan CEOR membuktikan bahwa inovasi mampu memperpanjang umur lapangan dan meningkatkan recovery factor.

“Yang patut kita banggakan, surfaktan sebagai komponen utama CEOR ini merupakan hasil inovasi perwira Pertamina. Efektivitasnya telah melalui serangkaian pengujian laboratorium dan lapangan, sehingga siap diterapkan secara komersial,” kata Oki.

Surfaktan yang digunakan diformulasikan khusus untuk lapangan-lapangan Pertamina. Prosesnya melibatkan PT Pertamina Lubricants dan Elnusa Petrofin—mulai dari pengadaan bahan baku, blending, QA/QC, hingga distribusi ke lokasi proyek. Seluruh tahapan dikawal melalui uji laboratorium dan lapangan yang ketat.

Manager EOR Petroleum Engineering PHR Regional 1 Sumatra, Agus Masduki, menyebut pengembangan ini juga didukung banyak pihak.“Selain riset internal, kami mendapat dukungan dari penyedia teknologi, akademisi, serta para ahli dari dalam dan luar negeri,” ujarnya.

Ratusan Sampel, Ratusan Percobaan Tantangan terbesar bukan sekadar menemukan surfaktan, melainkan mencari kombinasi paling optimal dengan biaya yang efisien. Produk global memang tersedia, namun karakter reservoir Rokan menuntut pendekatan yang sangat spesifik. “Yang paling berat justru menemukan bahan main surfaktannya,” ungkap Agus.

Proses ini melibatkan lebih dari 80 kali percobaan laboratorium. Dari puluhan formula yang diuji, hanya segelintir yang mendekati kriteria teknis. Di balik layar, Senior Analyst Laboratory PHR, Ester Tio Minar E. Silalahi, bersama tim berjumlah sembilan orang, menjadi garda terdepan.

“Kami menerima ratusan sampel surfaktan. Tantangannya adalah menemukan kombinasi yang benar-benar cocok dan stabil,” katanya.

Diskusi hampir dilakukan setiap hari. Literasi ilmiah dibedah, data dianalisis, dan pengujian diulang berkali-kali. “Kalau ada kendala, langsung kami bahas secara intens,” tambah Ester.

Di luar laboratorium, tim juga “bergerilya” mencari manufaktur bahan kimia, termasuk produsen yang belum pernah bekerja sama sebelumnya, baik di dalam maupun luar negeri.

Ketekunan, kolaborasi, dan pendekatan ilmiah yang konsisten akhirnya membuahkan hasil. Lebih dari sekadar teknologi, kisah CEOR di Rokan adalah cerita tentang daya juang manusia—tentang para perwira yang meramu bahan kimia demi menjaga denyut energi negeri.**

Komentar